Surat Cinta Untuk PPMI dan Berbagai Kecenderungannya 9
Selasa, 27 Jul '10 02:46
Salam hangat. Apa kabar?
Beberapa waktu ke belakang, saya secara personal merasa terganggu dengan isi otak saya sendiri. Barangkali semacam pesimisme akut. Mungkin juga terkait asumsi eksistensial. Oleh karenanya ijinkan saya menulis surat, katakanlah surat cinta, setelah dan sejauh pengamatan saya pada anda. PPMI.
Di luar permasalahan ontologis apapun (saya sengaja tidak ingin mempermasalahkannya), pesimisme saya sedikit menyentuh kapabilitas aktual dari sang-Subyek. Mungkin anda terlampau menyadarinya. Maksud saya dari pelakunya, subyeknya, apa yang masih bisa diharapkan? Hitungan bulan saya sudah mencari, mengilustrasi dan mengimajinasi puluhan, bahkan lebih, harapan-harapan tersebut. Ditilik ke dalam, ranah harapan tersebut ternyata lebih dekat dengan alasan. Saya ambilkan satu, pengembangan diri. Apa ini kemudian dapat menjadi suatu harapan, sederhana saja, bermanfaat secara astruktural namun sistemik? Banyak lagi alasan-alasan klise kemudian malah semakin mencerabutnya. "Saya harus kuliah," atau "nanti setelah lulus kuliah mau apa? Apa manfaatnya?" Juga ketika ditarik ke permasalahan yang lebih luas, masalah "ideologi anda seperti apa?" dan "kenapa anda tidak di-badan hukum-kan?". Banyak lagi saya kira.
Kecenderungan-Kecenderungannya
Saya sadar, awalnya anda hanyalah sebuah wadah. Wadah untuk sekedar berkumpul, mungkin berbagi informasi, atau kalau mau muluk-muluk membangun wacana gerakan. Namun hari ini sudah terlalu jauh untuk dikejar jika hanya berlari secara personal, pikir saya.
Setiap sesuatu, apalagi yang hidup, pasti mempunyai latar-belakang dirinya. Kalau anda sepakat dengan pernyataan di atas berarti anda juga sepakat jika setiap hal punya konteks tertentu yang melatari pandangannya, visinya. Kalau ditengok ke belakang, anda dilahirkan karena kesepakatan LPM-LPM di dalamnya, karena butuhnya suatu wadah untuk saling berbagi, apapun. Mungkin kalkulasi kepentingan-matematis menjadi hal minor kala itu, sama-sama direpresi oleh orde baru dan sama-sama menyadari pentingnya menulis apapun sebagai bentuk kepedulian pada orang lain.
Saya jadi ingat perkara ini berkelindan dengan prinsip realitas. Meskipun saya tahu anda lebih paham, saya coba utarakan yang relevan disini. Lepas orde baru, kita sepakat untuk megembangkan dan memperdalam batas terjauh kemanusiaan yang kita pahami, setelah sebelumnya dipagari oleh orde tersebut. Batas-batas terjauh tersebut dicapai oleh anda khususnya, dengan menggabungkan antara individualisasi (internalisasi nilai-nilai sosial, penyerapan isu-isu contohnya) dan sosialisasi (eksternalisasi nilai-nilai biologis, seperti proyeksi kerjasama dengan pihak lain, dll.). Memang secara keseluruhan hal ini tidak lepas konteksnya dengan segala macam prasyarat material yang juga ikut berubah. Yang paling jelas ketika implikasi dari instrumen teknologis macam internet menjadi penghalang mencapai batas-batas yang telah dilemparkan sebelumnya. Ini sama sekali belum sampai ke masalah ideologis.
Pengaruh rejim yang berganti lalu memaksa perubahan yang sedemikian hebat di dalam tubuh anda. Ini yang saya tangkap ketika membaca buku putih anda. Prasyarat teknis telah menjadi konteks sosiologis hari ini. Dan saya menjadi semakin kesulitan untuk menatap raut wajah anda. Saya hanya bisa melemparkan sebuah atau dua buah diskursus agar kita dapat mencapai konsensus rasional. Ya hanya sebatas itu. Kalau saya dipaksa untuk mencintai anda, dengan berpadu pada prinsip realitas yang kita sama-sama pijak, saya menjadi kebingungan. Saya bingung mencari jiwa, roh anda.
Kebingungan ini saya pikir lebih dalam daripada sekedar kebingungan di lokus jurnalisme. Lokus yang kemudian menjadi sedemikian praktis-teknis, bahkan personal. Deliberasi informasi di ranah jurnalistik? Saya dapat katakan masih jauh, jauh sekali. Tapi sudahlah, tidak akan habis rasanya jika berhenti di titik itu.
Anda menjadi terlalu naif kemudian. Sebenarnya apa kepentingan anda? Saya tidak yakin anda tidak berkepentingan apapun. Tema kongres kemarin "Satu Tekad Menuju Cita-Cita Humanisme" menunjukkan anda mempunyai banyak kepentingan. Dan saya sungguh sepakat. Kita memang tidak bisa lepas dari kepentingan. Bahkan tidak berkepentingan merupakan sebuah kepentingan bukan? Ini bukan semacam sok-sokan altruis, saya paham.
Menuju Saat Ini
Banyak sisi yang dapat diargumentasikan dari banyak pesimisitas saya diatas. Soal badan hukum, atau kemudian anda dapat disahkan secara hukum, itu cerita lama sekaligus usang. Oleh karena itu, saya pribadi ingin mengancam anda. Saya dapat pastikan anda akan mati, seperti tubuh tanpa jiwa jika anda memaksa melakukannya hari ini. Secara rasional anda mungkin menganggap saya terbalik. Dengan mempunyai payung hukum anda akan dengan bebas bergerak, membangun wacana, atau yang paling pragmatis sekalipun, mencari sponsor untuk kegiatan anda. Cuma itu? Tentu tidak, banyak keuntungan lainnya.
Karena ini sebuah pembalikan, maka alasan saya demikian. Dengan mempunyai kekuatan hukum, maka saya yakin anda akan semakin mudah 'dibeli'. Dibeli dalam beragam makna. Denotatif maupun konotatif. Ya dibeli namanya, ya kongruensi paradigmanya. Otomatis lebih besar kemungkinan kehilangan prinsip realitas anda. Beruntung kalau beberapa saat setelahnya anda tidak menjadi hipernormatif, lebih jauh lagi mengadakan perayaan atas tidak dapat ditekannya struktur-struktur instingtif. Buas serentak apolitis. Dan saya tidak mau membayangkan konsekuensi-konsekuensi setelahnya. Untuk semakin menguatkan alasan saya, walaupun sebenarnya saya tidak terlalu suka mengatakan ini, kalau tidak mempunyai payung hukum bagi anda adalah sebuah celah, maka justru celah tersebut adalah tameng terkuat anda.
Saya hanya mengingatkan bahwa anda mempunyai keunikan diantara rekan-rekan sebentuk-sebaya anda. Anda dilahirkan karena kesepakatan lembaga-lembaga, yang kita sadari bersama mempunyai konteks historis, politis, dan sosial berbeda. Maka saya menghormati sebesar-besarnya karena pihak-pihak yang melahirkan anda memilih kerangka konseptual perhimpunan. Lalu kemudian menggunakan konsepsi sekretaris jendral (tanpa ketua umum dan semacamnya) sebagai penggeraknya. Penghargaan anda pada LPM-LPM dengan menganugerahi mereka sebagai jendral anda menjadi refleksi tersendiri yang membentengi anda untuk mudah dibeli, seperti saya katakan tadi.
Terakhir maafkan kata-kata saya dalam surat ini jika menyinggung anda. Saya hanya sekedar coba-coba untuk menuliskan surat pendek melankolis yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya. Dan karena saya juga sadar karena menjadi anggota sebuah organisasi bukan seperti menjadi pendukung tim sepakbola. Dimana yang ada hanya imbang dan menang-kalah. Mendukung karena kemenangan dan mencemooh karena kekalahan. Saya tidak sepakat.
Baiklah saya tuntaskan, terima kasih sore harinya. Ini hari sudah agak petang. Masih salam hangat. Dan Salam Persma!
Tag: Surat
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
dewi alfath: Responsif
-
rooma: Penting
-
Die Key belajar nulis: Penting
-
Como Bacomboy: Responsif
-
Rizki: Bagus
-
Joker: Bagus
-
Atul: Perlu
-
Oo Zaki: Responsif
Komentar:
rizki: jabatan itu barang mewah bung, dan aq hanya anak miskin, tak mampulah membeli dan merawatnya.
joker: perjuangan cinta kita saat ini adalah perjuangan politis. haha. paling tidak untuk sekedar menyentuh tubuh seksinya. haha
Silahkan login untuk memberikan pendapat