Andrea Hirata di Atas Tikar Pandan 6
Minggu, 25 Jul '10 02:15
Ruangan persegi berlantai kayu itu dilapisi tikar pandan. Tapi warna pandannya tak tampak lagi, karena tertutup manusia yang duduk di atasnya. Sebagian lagi duduk di kursi, dan sedikit lebih banyak berdiri. Setiap ada pertanyaan lengan mereka terentang ke atas, sontak bersamaan, nyaris semua. Inilah "kelas malam" yang diampu guru bertitel sarjana ekonomi lulusan Sorbonne namun lebih dikenal sebagai penulis. Penulis yang bercita-cita jadi guru SD: Andrea Hirata.
Kemarin malam, Andrea Hirata datang ke Toko Buku Togamas di jalan Affandi, Yogyakarta, dalam rangka promosi buku barunya, Dwilogi Padang Bulan. Acara ini cuma satu jam, dimulai pukul tujuh. Selama itu ia bahkan tidak duduk. Ini bukanlah diskusi buku yang rigid, lebih-lebih ke anjangsono antara Andrea dan penggilanya. Makanya, café Djendelo di lantai dua toko buku itu begitu sesak.
Andrea, selain diberondongi pertanyaan, juga mencurahkan isi hatinya. "Saya sedang malas nulis," katanya. Ia sedang kesal setengah mati karena bukunya ini begitu cepat cetaknya. Maksudnya, versi bajakannya. "Baru tiga hari terbit (aslinya), bajakannya sudah keluar." Inilah penyebab Andrea malas menulis.
Tak cuma tanya-jawab, Andrea bahkan memantik tertawa. Ia mengajak hadirin membaca puisi, membaca petikan bukunya diiringi lagu rap, hingga mengucapkan selamat bersama-sama untuk keponakannya yang baru wisuda. "Sekarang Andrea Hirata beda. Dua tahun lalu saat saya ketemu di Malang, Andrea masih kaku," cerita seorang penanya yang alih-alih bertanya malah bercerita.
Usai hamburan hadiah buku, koleksi topi pribadinya, dan kaus, Andrea buru-buru ditarik panitia untuk menyudahi semuanya. Hamparan orang-orang di atas tikar pandan berubah jadi antrian yang mengular. Antri minta tanda tangan pria ikal ini dibubuhkan di atas buku koleksi masing-masing. Di antara denting gelas yang jatuh dan jeritan perempuan yang kakinya terinjak, massa di ruangan itu larut dalam euforia kegembiraan. Bersalaman dengan penulis favorit, euy!
*Juga diposting di www.ekspresionline.com
Tag: feature
Terkait:
-
Jalan itu, Kelok dan Tajam...
Minggu, 25 Apr '10 00:28
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Oo Zaki: Perlu
-
Die Key belajar nulis: Bagus
-
Joker: Perlu
-
nenden pabelanis: Bagus
-
Kusbono Ardinata: Bagus
-
dewi alfath: Responsif
-
Rizki: Bagus
-
Wahyu Eko P: Bagus
-
Fajar Kelana: Biasa
Komentar:
kalau niatnya emang berbagi.. ya seharusnya diikhlaskan.. toh sama saja akhirnya semua orang menikmati karyanya.. meskipun dengan cara yang berbeda,,
mungkin besok-besok bukunya yang di opensource-kan..
kalau masalah copas.. saya masih jadi pelaku nih..
*malu*
akh.
tapi, logika bahasanya ... membuat larik-larik yang sedikit indah di atas terasa ... dipaksakan.
misal: "Sebagian lagi duduk di kursi, dan sedikit lebih banyak berdiri", sudah ada koma (,) kok masih pake dan.. umumnya kata penghubung dan diselipkan setelah beberapa macam entah jenis atau apalah. terus "sedikit lebih banyak", aku bingung kalkulasi macam apa ini.
"Acara ini cuma satu jam", "Makanya", kata baku nggak sih.
"Andrea bahkan memantik tertawa", aneh..
sebenarnya sasaran pembacanya mahasiswa, kalangan umum, atau polisi..
seperti informasi yang memang dihadirkan dengan kecepatan penuh..
haha, "apalah jadinya karya tanpa apresiasi', itu pleidoi saya yang tiba-tiba menghampiri tanpa salam, menyorengkan arang di muka pintu, lalu pergi tanpa pamit.
anda ... boleh marah : )
(sory,terinspirasi dari comment kamu sebulan yang lalu)
Makasih, kamu udah mengembalikan aku ke dunia persma.com yang agak membosankan belakangan ini.
Silahkan login untuk memberikan pendapat