Sang Terminal kultural 15

Jumat, 23 Jul '10 02:11

 

Anak sekret sebelah menjuluki sang master puisi , sekret sebelahnya lagi sering menghadiahkan panggilan sang veteran, bahkan beberapa oknum persma membaptisnya sebagai "tuhan". Dengan goresan senyum yang tak bernominal makna aku ingin memanggilnya dengan sebutan bapak. Seorang mahluk aneh yang rela mengunyah kegelisahan si pasien. Rela memecah waktu menjadi mozaik yang dengan mudah kami ambil.

Bukan hanya menjadi sampah tempat berkoloninya segala curahan jiwa, tapi lebih dari itu dia sangat mahir mendaur ulang curhatan dengan mempersembahkan output berupa titik rekomendasi.  Dari berbagai macam sisi dia berupaya mengintip sebuah masalah hanya untuk sekedar menawarkan rambu-rambu yang menjadikan masalah itu bisa dengan mudah kami lalui.

Beberapa ucapan mirip sautan kicau burung  pernah berkata tentang deadline DO akan diputuskan ketika mahasiswa berproses selama lebih dari tujuh taun. Tapi si "Ayah" justru memanfaatkan dan malah menjadikan waktu senggang itu untuk "aku" dan "aku yang lainya".

Dia seolah melompat dari mitos yang mengatakan Mahasiswa selayaknya lulus dalam jangka waktu empat tahun. Aneh, mungkin dia manusia yang mempunyai lebih dari satu hati, Puluhan atau mungkin ratusan (lebay) . usaha untuk melawan arus tentang stereotip mahasiswa abadi, menjadi mahasiswa yang peka terhadap permasalahan di sekitarnya. Walaupun dia tak pernah dinobatkan oleh publik menjadi manusia spesial, setidaknya dia patut mengkantongi mahkota "special one" dariku.

Berbagai macam jenis pasien yang melabuhkan masalah pribadi ataupun lembaga padanya. Hampir semua mahluk yang menggenang di UKM Fakultas Sastra pernah menukarkan masalah padanya. "WOW".. kata itu pasti akan menjadi refleksitas ketika membaca tulisan ini.

Beberapa ide yang dia transfer padaku hampir menjadi tumpukan yang mengunung. walaupun menjadi sebuah ide tanpa identitas ketika masuk dalam area forum.

Aku yakin tak pernah terbesit dibenaknya untuk menjahili lembaga yang pernah mengeluh padanya. Justru dia menjadi titik balik ritual jahil itu. Hal ini dikarenakan bebarapa lembaga yang menjadikanya terminal tempat bercumbunya masalah A, B, dan seterusnya. dalam aroma kultural dia berupaya mengikat persaudaraan antar lembaga. Akar yang perlahan tumbuh melingkar dan membentuk suatu ikatan kerap kali menjadi rutinitasnya.

Siapakah mahluk aneh ini? Jangan kuatir, cukup dengan modal usaha untuk mampir di komplek UKM Fakultas Sastra dengan mudah kamu akan menemui sosok ini. Juru kunci dan tempat penitipan beberapa sekret yang mekangkang di komplek itu. Datanglah dan rasakan kehadiranya lewat tafsiran subyektif dari tulisan ini.

 


Tag: Profil

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Prima S W 0 0
tulisannya khas sekali mahasiswa sastra (stereotyping ya? : p).
tapi, logika bahasanya ... membuat larik-larik indah di atas terasa ... dipaksakan.

misal: "Rela memecah waktu menjadi mozaik"
kalimat ini memosisikan bahwa mozaik adalah sesuatu yang pecah (rusak, bertebaran, berhamburan) sehingga bisa dipunguti pecahan-pecahannya. padahal mozaik adalah pecahan-pecahan yang disusun menjadi sebuah karya seni utuh.

"Beberapa ide yang dia transfer padaku hampir menjadi tumpukan yang mengunung."
ide itu baru "hampir" menjadi tumpukan. masakan dia sudah menggunung? padahal menumpuk saja belum. toh sebelum menjadi gunung, ada yang lebih kecil, bukit misalnya.

haha, "apalah jadinya karya tanpa apresiasi', itu pleidoi saya yang tiba-tiba menghampiri tanpa salam, menyorengkan arang di muka pintu, lalu pergi tanpa pamit.

anda ... boleh marah : )

Die Key belajar nulis 0 0
mozaik menurutku sih remah yang bersatu tapi masih memiliki sekat antar remah itu sendiri, kesatuan yang tak utuh..

itu memang sudah membukit tapi belum menggunung..

redaksional banget, tapi mengapa aku harus marah.. toh.. kita disini sama² belajar dengan menerima otokritik..

mari berbagi arang dan saling mencoret (kritik), aku tetap berharap arangmu tak pernah habis untuk mencoret ribuan pintu yang aku punya...

Prima S W 0 0
Tapi kan mozaik itu walaupun bersekat, tapi sudah menyatu. Makanya gak bisa di punguti macam remahan. Haha, aku cuma memakai logika bahasa.

Maafkan pembelajar yang naif ini : )
Die Key belajar nulis 0 0
Prima S W: lah iya kesatuan yang tak utuh...
pembagian yang tak mungkin rata..
aduh, logika bahasa [akademis baget]..
sory mas aku gak nempuh, itu bukan mata kuliah wajib untuk hidup..

bung hakim 0 0
..kita semua harus menerima kenyataan, tapi menerima kenyataan saja adalah pekerjaan manusia yang tak mampu lagi berkembang.
: D : D : D
Bravo, guratkan lagi pena mu......!!!
Prima S W 0 0
aku perempuan : )

akademis? iya po? nggak juga ah. 1=1 dipelajari di sekolah, tapi penting juga kan buat sehari-hari.
Die Key belajar nulis 0 0
Prima S W: maklum aku kuliah di sekolah alam tanpa durasi...
oalahh, ywdah ralat; panggil jeng aja yaa...hahaha...

yaahhh... aduh aku gak pernah tuh diajarin tentang kebenaran tunggal 1=1 (hasilnya harus satu)..
aku rasa malah gak penting banget, ilmu yang menyesatkan..
Joker 0 0
"mozaik adalah sesuatu yang pecah (rusak, bertebaran, berhamburan) sehingga bisa dipunguti pecahan-pecahannya. padahal mozaik adalah pecahan-pecahan yang disusun menjadi sebuah karya seni utuh."

Prima S W S W : cb deh baca lagi,. bedanya dmn antar mozaik "a" dan mozaik "b"??
Prima S W 0 0
joker cerewet bermulut lebar: yang pertama belum disusun, yang kedua uda disusun jadi satu, dilem yang kuat jadi gak bisa dipreteli kaya motor korban curanmor. paham?
Die Key belajar nulis 0 0
Prima S W: aihh.. jeng sulis yang ahli comment ternyata emosinya gampang meledak ketika bertemu antitesa..
Rizki 0 0
Saya rasanya kenal orang yang ada di tulisan ini : )
Die Key belajar nulis 0 0
Rizki: baru kali ini ada yang bercumbu dengan konteks tulisan.. hahahaha... budayawan dadakan..
si berang-berang 0 0
mungkin kalau ada pemilu untuk Tuhan, saya pilih orang ini.

prima: ada performative language ada informative language. Selama masih dalam batas 'dapat-dipahami' aku pikir gak masalah prim, itu sebuah percobaan artikulasi estetis. Meskipun kalau berlebihan dan terlalu jauh dari konteks empirisnya jadi menggelikan. atau bahkan terlalu klise.
Die Key belajar nulis 0 0
si berang-berang: hahaha... tuhan tidak dipilih cuy, tapi dilotre (mirip arisan ibu2 PKK)..
si berang-berang 0 0
kalo kertas lotrenya ditulis nama orang ini semua gimana?
haha

Silahkan login untuk memberikan pendapat