Insiden tentang Tuhan 9

Jumat, 23 Jul '10 00:48

 

Beberapa hari lalu saya nonton lagi Angels and Demons. Film hasil adaptasi novel berjudul sama karangan Dan Brown itu memukau saya. Tentu saja tentang ide ketuhanan, eksistensi manusia, agama dan sains. Kok ya kebeneran beberapa hari ini ada saja insiden saya bersinggungan dengan ide-ide ketuhanan. Mulai dari kakus, makan, tempat ibadat, ormas islam, buku sampai dengan facebook. Masalah yang menurut saya sudah sangat basi karena banyak orang pinter minus dukun yang membahas tema ini. Dan saya merasa tidak punya kapabilitas ekstra untuk bicara mengenai ketuhanan. Tapi obrolan saya hari ini dengan seorang kerabat menggelitik saya soal ide besar agama mengenai tuhan dan praksisnya dilapangan.

Hari ini, Rabu 21 Juni 2010 kira-kira pukul 14.50 saya kedatangan tamu. Seorang tionghoa yang sudah sangat dekat dengan keluarga saya. Sebut saja ia Han. Ia adalah salah seorang pedagang di kota saya Bondowoso. Seperti kebanyakan orang tionghoa di Indonesia, beliau orangnya ramah, beragama katolik taat tapi masih melaksanakan adat konghucu, dan punya sense bisnis yang tajam. Hari ini kami berdiskusi banyak mengenai agama saya yang kebetulan islam. Ia banyak bertanya tema-tema yang sensitif bagi kebanyakan orang, mengenai fiqih, tauhid dan syari'ah. Berhubung saya bukan santri dan kebanyakan pengetahuan agama saya hanya dari bahan bacaan dan ajaran orang tua. Kebanyakan jawaban adalah "Wallahua'lam" dan "belum tau". Ya daripada bicara ngawur dan sok tahu nanti malah menjerumuskan dan jadi fitnah. Khusus buat agama saya gak mau ambil resiko sotoy dan keminter, kalo yang lainnya masih hehehehe.

Han bertanya tentang hukum orang yang melakukan nyabis (memberi uang pada kyai saat anjangsana), poligami, toleransi agama, mazhab dan aliran dalam islam, serta perbandingan kehidupan muslim antar negara. Ia merasa tidak habis pikir mengapa banyak sekali muslim (khususnya yang miskin) rela berhutang untuk melakukan tindakan nyabis. Padahal dirinya sendiri masih kekurangan, padahal ia bilang dalam ajaran agamanya ia dilarang melakukan hal yang memaksakan diri meski untuk sesuatu yang baik. Ya saya jawab, setahu saya dalam islam juga demikian. Segala hal yang berlebihan itu tidak baik bahkan ada beberapa yang haram. Nah nyabis itu seumur-umur saya belum pernah menemukan hadist atau surat dalam Al-Quran yang membenarkan hal tersebut. Ya saya pribadi menolak hal itu pada akhirnya. Saya sendiri pun kok merasa kyai-kyai yang menerima nyabis itu sedikit keterlaluan, agama, bila memang ia bebas dari nilai duniawi harusnya tidak dihargai secara materalis. Dan seharusnya ia menjadi medium pencerahan umat yang tersesat. Lah kalo kemudian ia menjadi komoditas apa bedanya agama dengan jasa konsultasi psikologis? Marthin Luther pun dahulu melakukan perang terhadap gereja karena adanya komodifikasi keagamaan, sehingga ia secara radikal melakukan perlawanan dengan menempelkan beberapa esai kepada pintu gereja. Apa para kyai itu menunggu untuk datangnya Marthin Luther lain untuk menempelkan kritik di depan pintu pesantrennya? Semoga saja tidak.

Karen Armstrong dalam banyak bukunya mulai dari the Holy War sampai History of Gods menceritakan secara tersirat tentang kedekatan dan relasi atas tiga agama samawi (Islam, Kristen dan Ibrani) memiliki pergolakan sejak awal terbentuknya agama-agama itu. Dan seringtkali pergolakan itu diakhiri dan diatasi dengan jalan darah. Perbedaan tafsir dan pemaknaan dalam agama tadi akhirnya banyak melahirkan sekte dan aliran-aliran tersendiri yang diantaranya berseteru. Lalu kenapa ada agama bila perseteruan terjadi dalam agama itu sendiri? Soal perbedaan adalah fitrah adalah sesuatu yang given kata teman saya, jadi tidak usah memaksakan kehendak. Dalam hal itu saya banyak belajar dari Bapak dan Kakek saya. Mereka adalah dua orang muslim dari dua organisasi islam yang berbeda, Bapak saya besar dalam nuansa diskusi Muhammdiyah dan Kakek saya dibesarkan dalam kultur NU. Banyak sekali silang pendapat antara Bapak dan Kakek tidak membuat mereka membenci satu sama lain. Toh pada intinya kita muslim yang bersaudara kata mereka. Bapak saya dalam beberapa hal lebih ekstrim. Ia seringkali mengutip hadis dan ayat Qur'an saat melihat fenomena sosial dalam mengajarkan saya pendidikan islam. Sedang kakek saya lebih luwes dan fleksibel dalam menghadapi kebudayaan Islam Indonesia. Jadilah saya orang yang bingung dan moderat dalam memandang keagamaan. Malah kata kakak saya sudah kayak anggota Jaringan Iblis Laknat (JIL).

Kakak saya adalah orang yang bisa dikatakan islam fundamentalis dalam kriteria Ulil Abshar Abdala. Hei, tunggu saya bukan fans beratnya. Suer, malah sebenarnya gak suka sama Ulil, tapi ya bolehlah pemikirannya ada yang benar. Apakah saya liberal? Saya tidak tahu, sebelumnya saya menulis tentang 'membumikan ide liberal', senior saya bilang bahwa saya ini sebenarnya sudah jadi anggota gerombolan freedom institue alias anak didik Ulil. Apakah benar demikian? Memang saya sedikit banyak suka dengan wacana modernisasi keagamaan dan politik ala Huntington. Tapi tidak sampai pada tahapan saya menyatakan diri membebaskan diri dari segala remeh temeh aturan agama tradisional. Dan sampai saat ini Saya belum bisa menjawab. Mungkin saya ini hanya sedang sakit euforia 'kebebasan berpikir' gara-gara didikan di organisasi. Itu asumsi awal saya. Tapi sekali lagi itu tidak saya yakini, kalo memang sudah sakit euforia itu saya mungkin sudah jadi sok-sokan atheis macam teman-teman seorganisasi. Saya toh masih percaya Tuhan dan masih ibadah meski agak bolong-bolong. Karena, meski kadang saya skeptis akan sesuatu yang imanen, saya tetap percaya ada entitas luar biasa yang menciptakan jagat raya. Dan saya menolak pendapat Camerlengo Patrick McKenna dalam Angels and Demons saat ia berucap "Apa yang akan dimiliki tuhan, jika metode penciptaan pun pada akhirnya dikuasai sains?". Jika ia selemah itu maka Tuhan tak perlu di sembah. Karena Tuhan saya adalah Tuhan yang hebat, Tuhan yang menciptakan manusia semacam Stalin dan Hitler, tapi Ia juga menciptakan Bunda Theresa dan Munir. Sebab itu tak perlu takut untuk berTuhan.

Seperti yang banyak orang ketahui, saya adalah jama'ah tetap kampus. Bukan sebagai muslim zuhud yang melaksanakan ibadah tapi lebih pada pengguna toilet masjid yang taat. Tiap pagi dan sore saya selalu pergi kesana untuk buang hajat dan mandi. Suatu kali saya ditegur oleh kawan pengurus masjid. "ojo mbok gae (masjid) koyo septik tank cak, mbok yo sekali-kali ngaji lan jama'ah" begitu ujarnya. Sebenarnya saya sangat terpukul dan malu. Toh saya juga tiap selesai mandi atu buang hajat sering melaksanakan ibadah sholat berjama'ah meski tidak rutin. Saya jadi ingat buku dari Maya Wuysang, seorang katolik yang berbaik hati memberi saya buku. Sebuah kumpulan esai dari Goenawan Mohammad dalam Conversations with Difference, didalamnya ada esai yang berjudul Salladin. GM pernah melakukan ibadah di masjid sekaligus makam Sholahudin Al Ayubi di Damaskus yang terkesan muram, dingin dan sepi. Dan saya merasakan hal serupa dengan semua Masjid yang saya temui. Apakah ini perasaan saya saja? Semoga iya, karena dulu, dulu sekali saya sering sholat berjamaah di masjid 5 waktu. Saya memang menemukan kedamaian didalam masjid kala itu. Ibarat menemukan sanctuary of faith. Tidak perlu malu atau takut disebut sok alim, karena pada saat itu memang saya sedang gandrung pada tuhan. Dan sekarang? Mungkin sedang bosan, seperti sedang pacaran, saya dan Tuhan lagi break. Hingga pada akhirnya saya lupa kenangan manis pacaran berdua di masjid, asyik masyuk dengan ayat-ayat suci.

Kawan saya si pengurus masjid dan Han menonjok saya dengan telak. Sore itu Han rupanya sedang curhat mengenai susahnya membangun rumah ibadah gereja di Indonesia. Pembangunan Gereja selalu saja menemukan rintangan dari lingkungan tempat pembangunan. Padahal dari pihak pemerintah sudah mengijinkan, hanya saja masyarakat di sekitar lokasi pembangunan seringkali menolak adanya rumah ibadah di lingkungan mereka. Saya heran dan tidak habis pikir mengapa demikian? Jika memang kita mengakui pancasila sebagai idiologi dan undang-undang sebagai pedoman peraturan. Hal semacam ini tidak perlu terjadi. Saya pikir Mochtar Loebis benar soal Manusia Indonesia sebagai manusia yang munafik dalam beberapa hal. Kita mengagungkan bhineka tunggal ika tapi melarang ibadah keagamaan suatu kaum. Ahmadiyah misalnya, boleh jadi mereka salah, tapi siapa yang dapat menjamin mereka tidak benar? Jika kita boleh melakukan islamisasi seorang individu, apa hak kita melarang orang berpindah agama jadi nasrani? Atau saat kita ramai-ramai menghibahkan lahan untuk pembangunan masjid, mengapa orang seringkali kebakaran jenggot jika tanah disebelah rumah mereka akan dibangun Klenteng atau Gereja? Kita sering tidak adil dalam hidup dan beragama. Han bercerita juga bagaimana dulu ia sebagai etnis tionghoa seringkali mengalami diskriminasi disebut "Iyok", sebutan kasar untung orang tionghoa. Apalagi saat mereka ingin beribadah di gereja. Tionghoa dan kristen, ramuan handal untuk mengalami pelecehan. Diskriminasi dalam beragama boleh jadi berkurang, bukan berarti tidak ada. Gereja yang jumlahnya sedikit sekali dibanding dengan Masjid. Terjadi karena pembangunannya seringkali terbentur ijin masyarakat. Haruskah kemerdekaan beragama terbentur konsensus? Saya tidak bisa membayangkan apajadinya jika islam mengalami diskriminasi seperti di Bosnia. Boleh jadi kemerdekaan beragama itu mitos.

Saya tidak meminta kebebebasan ala Camus dalam l'homme Revolte, apalagi Nietzsche dalam Der Wille zur Macht. Kebebasan dan kemerdekaan yang kemudian berakhir pada menafikan keberadaan tuhan dan agama. Aih kumat penyakit nyatut nama saya, intinya saya tidak menghendaki kondisi kebebasan mutlak. Hanya sikap toleransi saja, cukup itu. Rangkaian insiden tadi membuat saya berpikir ulang tentang agama. Oh bukan, bukan saya ingin menanggalkan agama. Sekedar berefleksi, kenapa kualitas iman saya luntur? Kenapa keberagaman malah jadi masalah? Mengapa seringkali perbedaan diatasi dengan darah? Ah biarlah bukankah pada akhirnya agama itu selalu jadi ruang privat? Saya berbagi dalam ruang publik ini pun anda menilai dengan standar yang berbeda. Ini sekedar gumam, gumam yang dihembus untuk saya yang resah. Kemudian ingat "Do'a" Chairil Anwar. "Tuhanku, di pintuMu aku mengetuk, aku tidak bisa berpaling".

 

*ditulis saat Arina dalam iringan nada Mocca berujar I Would Never...

 


Tag: agama, tuhan, esai, ngelantur

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Prima S W 0 0
judulnya tak sesuai isinya. picik macam orang tak pernah baca buku. menyinonimkan tuhan dan agama.

seperti biasa, tulisan ada selalu ditebari jutaaan literatur kesohor. macam bintang di langit. indah tak teraih. begitulah arman dhani : )
dhani saja cukup 0 0
Mima. Ya.. Agak asu komenmu. Tapi ya bener.
Ada beberapa alasan kenapa banyak kutipan dari buku. Karena saya menolak sepakat dng Wiji Thukul saat ia blg buat apa banyak buku, kalo kau diam melulu. Krn tdk ingin diam saya tulis referensinya.
Kedua. Suatu masa saya nulis tanpa mencantumkn nama. Akhirnya berakhir di hina2.
dhani saja cukup 0 0
Ketiga, karena pada dasarnya saya ini keminter dan sombong. Pengen aj diliat pinter. Tapi saya ingat pesan Ibu. Jangan menyulitkan yang mudah. Makanya fungsi reperensi td hanya endorsement buat orang cari tau.
Ke empat. Soal tulisan. Saya suka mengalami semacam scizhoprenic writing. Saat nulis. Ada banyak lapisan makna. Kadang arbiter kadang searah kadang repetisi. Tulisan saya bukan untuk memahamkan. Tp emang buat bertanya. Hahahaha. A a ayee!
dhani saja cukup 0 0
Ijin ngutip ya? F Budi Hardiman menjelaskan pikiran Heidegger. Tentang puisi sbgai sarana plg mudah untuk memahami 'Ada'. Dan Esai (punya saya sok sok an esai) adalah puisi yang mentah lagi kasar. : p

nulis aja. Jangan berharap orang tau dan paham. Tulis. Siapa tau itu agitasi murah.
Rona van Boyd 0 0
Hmmmm....
bkan orang agamis jdi gak mau nulis gituan...
mending ikut aku aja ke tulung agung belajar kejawen: darmogandul, gatholoco atau sejati lah...
mas andi siap fasilitasi lho....
biarin si prima .... orang gak beres tuh...
Prima S W 0 0
haha, tujuannya mas dani cuma semata untuk nulis ya. kalau inget pesannya nyai ontosoroh, menulis untuk dibaca, ya kukira ada pentinga memperhatikan aspek "MUDAH DIMENGERTI ORANG LAIN". hehe, kita sudah beda pandangan secara fundamental ya.

yah, tapi itulah arman dhani, saya bilang. tiap orang memang punya style sendiri2.

dan style mu bosok mas.
(jgn masukkan hati. anus saja)

@anak gembel: cuk ngopo mrene ngrusak wae.
biro umum ppmi nasional 0 0
Prima S W: diam semua
Prima S W 0 0
@biro umum ppmi nasional: cih!
Wahyu Eko P 0 0
saya suka, suka ya suka. terus kalau suka mau apa di kata.

Silahkan login untuk memberikan pendapat