Tidak Hanya Verifikasi. 14

Selasa, 20 Jul '10 18:11

Melanjutkan pembacaan tentang untuk apakah jurnalisme? Pertanyaan ini mungkin terasa sudah terlalu lama tidak terdengar, karena hampir semua orang mengetahui fungsi atasnya. Seiring perkembangan jaman banyak sekali yang terjadi pada media yang beredar di masyarakat. Sempat membahas dengan seorang kawan dari LPM. Membahas tentang kebingungan yang disebabkan oleh media yang seakan-akan menjadi ajang pengalihan isu dan pemuas nafsu bukan informasi.

Kejadian ini sebenarnya sering sekali menjadi pembahasan yang menarik ketika menjumpai teman-teman yang sedang ingin memasuki dunia jurnalistik. Sering sekali ada sebuah kesalah pahaman yang terjadi di masyarakat. "Wartawan itu kurang ajar ya? Tidak bisa menghormati privasi seseorang," Tanya seorang teman kampus saat sedang duduk menantikan malam datang.

Pemahaman seperti itulah yang saat ini banyak berkembang di masyarakat. Kurangnya penerapan dari elemen jurnalisme dan etika jurnalis membuat seakan-akan kerja jurnalistik adalah membongkar kekurangan seseorang tanpa adanya verifikasi, hanya ada asumsi-asumsi berdasarkan kabar angin. Pemberitaan semacam ini sering digunakan oleh teman-teman yang bekerja pada media infotament.

Tujuan utama jurnakisme adalah menyediakan informasi yang dibutuhkan warga agar mereka bisa hidup bebas dan mengatur diri sendiri. Informasi terbuka akan sebuah kejadian dan fakta akan menciptakan sebuah kesadaran. Informasi ini akan menjadi sebuah pengetahuan yang berakar pada realitas. "Saya sudah lama percaya bahwa kita mencapaikemajuan terbaik sebagai masyarakat jika kita punya basis informasi yang sama," ujar Tom Brokaw, pembawa berita NBC.

Seiring dengan berkembangnya teknologi membuat semakin cepatnya informasi sampai pada pembaca. Perkembangan informasi ini semakin membuat akses terhadap suatu berita semakin luas, sehingga sekat-sekat yang biasa menjadi kendala para jurnalis untuk menyampaikan informasi telah dipangkas. Internet membuat informasi dari para jurnalis dapat menjadi sebuah ajang diskusi, karena pembaca bisa berinteraksi secara langsung dengan penulis. Dengan keterbukaan semacam ini mampu menciptakan Prosumen (Produsen Konsumen).

Mungkin kemanjuan ini menemukan wartawan era baru yang membantu pembaca mengerti secara runtut apa yang seharusnya mereka ketahui. Karena hampir semua orang saat ini dapat menulis sebuah berita dan menjadikannya informasi. Tugas jurnalis adalah memverifikasi apakah informasinya bisa dipercaya, lantas mengulasnya lebih dalam agar masyarakat dapat mengetahui kejadian secara utuh.

"Anda bergerak menuju jurnalisme dua ara," kata Seeley Brown. Disini merupakan gambaran dari apa yang sudah dijelaskan diatas, lalu dimanakah tugas jurnalis? Apakah hanya memverifikasi informasi? Tentu saja tidak seperti itu. Jurnalis kali ini harus menjadi pemimpin diskusi atau mediator dari pada menjadi guru atau pengajar semata. Hal ini disebabkan karena akses informasi yang sudah semakin mudah didapat, sehingga membutuhkan penengah dan penunjuk arah dari diskusi dan asumsi-asumsi masyarakat. Seperti yang terbaca di kop suratkabar Script Company, "Berikan sinar dan orang-orang akan menemukan jalan mereka sendiri."

 


Tag: Persma, Jurnalisme, Verifikasi

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

BJ 0 0
Jurnalis, pewarta, reporter, wartawan, atau apalah namanya yang lain itu tidak jauh berbeda dengan buruh, kawan.
FF Haq 0 1 tidak suka |
Jika kamu sudah menganggap itu sebagai buruh maka jadilah buruh. : )
Persepsi boleh berbeda asalkan tujuan dan manfaat yang diharapkan membawa sebuah pencerahan.
BJ 0 0
Buruh ya tetep buruh!
Buruh kan harus manut atasan...Wkwkwkwk


--maaf--
(atasanku itu hanyalah bagian terkecil dari hati saya)
Sad to say, Sy tak mau menjadi bagian dari atasanku itu.
FF Haq 0 1 tidak suka |
Kalau atasan itu memahami apa yang dilakukan oleh buruh apakah masih sama? Rekan kerja mungkin lebih menarik. : )

Saya ingin menjadi pewarta, bukan buruh. Walaupun disadari masih perlu sebuah pembelajaran lebih. : p
BJ 0 0
buruh ya tetep buruh dimana-mana....
(tdk ada yg sejati, kawan...karena persetan dgn Idealismemu itu. Toh nantinya jadi sampah yg dikemas rapi biar tercium wangi dihidung kebanyakan org yg katanya Intelek, seolah-olah (dianggap) telah membawa kebenaran suci)

yang Bau dibuat menjadi Wangi...(yg disanjung-sanjung dgn nama Sastrawi itu)

Happy hooker!
FF Haq 0 1 tidak suka |
Sebenarnya bukan masalah idealisme mas. Sampaena juga tau pewarta itu tidak harus berada dibawah sebuah perusahaan. Liat saja kita saat ini yang sedang mewartakan sebuah wacana yang terjadi pada ku. Dan diskusi yang dimaksud pada tulisan ini sudah terjadi.

Saya sebisa mungkin menjadi mediator yang mas anggap sebagai budak. Berarti mas sekarang menjadi budak ya. Intelektual yang dari kemarin mas sampaikan sementara ini masih terasa bias bagi saya (maaf).

Demokrasi memang tidak akan pernah ada, tapi ada beberapa orang yang memepercayai bahwa jurnalis akan dapat menjadi penerang untuk menciptakan kesadaran pada masyarakat (walaupun saat ini masih menjadi keraguan bagi beberapa pihak). : )
BJ 0 0
Loh, lagi-lagi asertif sekali, ternyata pemahaman sosialis mu ttg budak ternyata sprti itu. Jadi skeptis saya bertambah trhdap drimu, dab.

'Bias' karena kamu belum sepenuhnya MELEK. Cobalah liat pengertian "Wacana" itu sendiri di KBI, dab. Maaf ya, Saya bukan budak siap-siapa --maaf juga-- saya ANARKIS TULEN, dab. Tapi bukan komunis, apalagi sosialis yang cocot e wangi itu.

Skeptis, ya, akan slalu tetap begitu saya, Skeptis! mana ada BURUH menerangi org lain, kecuali dirinya sendiri...
(makan untuk hidup)

Dab, karena seyogianya melek itu tdk cukup hanya membaca, tpi yg saat ini (kita) mbutuhkan nilai-nilai keterbukaan, kemampuan u/ berpikir u/ diri kita sendiri, kemampuan u/ menarik kesimpulan2 independen, mengekpresikan perbedaan pendapat ketika penilaian dan akal sehat melihat kalau ada sesuatu yang salah, lalu mampu/ bisa kritis terhadap diri sendiri u/ menantang kekuasaan, mampu melihat fakta-fakta sejarah agar dpt membedakan kebenaran dan kebohongan.

Last but not least, kita musti menghadapi perubahan dan mengakui bahwa ada perbedaan dan ada cara berpikir dan hidup yang berbeda.
(demokrasi itu ada )

--maaf-- kamu blng demokrasi 'tdk akan' pernah ada, Loh terus yg sekarang kamu lakukan u/ persma itu APA? y mbok pulang kandang wae...urus dulu rumah tempat KAU dibesarkan...merapat ke pesisir (RUMAH)

So, jgn heran kalau ada yang reaktif seperti rekan Pabelan. Toh sah-sah saja kok dia bersikap seperti itu. Toh, yang duduk di singasana Kekuasan itu, pernah menjadi Buruh juga melalui tulisan-tulisan mereka.
Toh, sah-sah saja kalau ada yg tertawa, tersenyum, memaki, mencerca --semuanya halal kok.

bukankah Yang berkuasa pernah juga menjadi (maha)siswa ya.. atau hanya pikiran saya saja.

(calon buruh/ atau yang menjadi buruh sekarang tidak jauh berbeda dgn yang sebelum-belumnya) Happy Hooker!

-Hook up-
Holy City Rollers
FF Haq 0 1 tidak suka |
Ya saya mengakui kekeliruan pada tanggapan saya sebelumnya, mengenai demokrasi. Jika memang buruh hanya dapat menerangi dirinya sendiri, apakah pewarta saat ini hanya bekerja dirinya sendiri.

"bukankah Yang berkuasa pernah juga menjadi (maha)siswa ya.. atau hanya pikiran saya saja." Ini pernah menjadi pembahasan menarik. Idealisme seseorang mahasiswa hanya sampai ketika lulus kuliah, namun ada beberapa orang yag dapat bertahan.

"Isi perut sendiri aja tidak bisa diurus ngurusin perut orang lain," kurang lebih seperti itulah yang disampaikan seorang aktivis masyarakat dalam sebuah diskusi. : )

Skeptis aja dab. Semakin bagus itu, karena aku akan belajar dari sisi yang kau lihat. : )
BJ 0 0
Skeptis itu anarkis sejati, dab. Skeptis ya, karena, saya percaya dgn MISTAKUM-nya Pramoedya Ananta Toer ataupun gaya progresifnya Chomsky dan Cak Nun, serta yg lainnya (yang) satu pemahaman. Selebihnya ya, ILUSI...

Bukannya merendahkan org lain, mendiskreditkan org lain, bukan pula menjelelekkan org bahwa dia lebih rendah/ bodoh/ bego...
(dominasi kaum pelajar/ intelek, berkelas. atas nama GENGSI pribadi yg harus sederhana kok dibuat RUMIT)

"SETAN alas," kata Wiro Sableng.
skeptis y saya trhdp kamu tidak lain hanyalah sebagian kecil saja apakah kamu benar2 paham dgn pemikiranmu sendiri?

-maaf- kalo boleh bilang,sy lebih suka cara Edi (Pendapa), Yandri (Ekspresi), Ian (Sadar). Big thumbs for them...

I don't believe in Atheis, bukunya Chris Hedges, tpi tetap, saya suka dengan teman-teman atheis saya di salah satu forum lingkaran itu.

Pewarta itu buruh.
(kalo kau punya ilmu KATURGAN kaya' GATOT KACA, monggo ta' tunggu wangi dunia yg pengen KAu rubah itu) Ha ha ha ha...fatomorgana....

Kreatif dalam berbahasa (Pramoedya Ananta Toer, Emha Ainun Nadjib, A.N Chomsky) makanya saya SKEPTIS dgn catatan kaki, ataupun referensi berak-rak itu. Saya lebih mengandalkan AKAL saya sendiri. Toh, sama-sama makan nasi aja pun, KOK repot...

Skeptis. saya tahu kalo' kopi yg di Buzz (yg sdg saya teguk bak ARAK ini) warnanya hitam, atau hanya pikiran saya saja.

HOOK UP, happy HOOKER!!!!
si berang-berang 0 1 tidak suka |
hahaha.....
ikut tertawa ya.

kalau mau jadi buruh ya jadi aja sekalian, dalam makna dan pengertian kbbi sepenuhnya. ruwet tenan.
jangan setengah2.
BJ 0 0
@ si berang-berang: yo banggalah jadi buruh, bung. Jgn setengah2...
BJ 0 0
@ si berang-berang: Sad to say, yg tdk bs paham (ruwet tenan) pdhl sederhana katanya: 'BURUH', ternyata malah justru mereka 'para intelektual' (termasuk anda yg sok POST), karena jika mereka paham, mereka akan kehilangan dominasinya.


Hook me up, darling! Ha ha ha...
si berang-berang 0 0
sok POST?
wkekekekekk,
sayang sekali...saya bahkan sampai sejauh ini tidak tahu apa itu POST. apalagi sok2an. gimana caranya ya?

sip, berbanggalah, jadi buruh yang bermental buruh.
BJ 0 0
@ si berang-berang: pengen mendominasi y..biar kliatan keren ? lucu kali anda ini, bung, dgn tulisan anda sendiri...(lagu2 lama) kanan, kiri...oke, tpi bnyak yg sprti anda.

Silahkan login untuk memberikan pendapat