Bego tapi punya Hati 46
Senin, 19 Jul '10 20:41
Semalam kira-kira jam 00.00 saya di sms oleh nomor tidak dikenal, setelah saya tanya siapa dia. Eh ternyata dia adalah perempuan super gak penting bernama Devi. Entah kenapa, dia bilang saya harus buka persma.com. Penting sekali ujarnya, aih wanita ini suka sekali bikin sensasi. malas menanggapi, ah mungkin sensasi baru sebab itu saya acuhkan saja sms itu, dan melanjutkan tidur. Karena semalam saya baru saja putus. Not a big deal, esoknya saya kembali ke Jember. Sekitar pukul 11.20 saya sampai di gedung poma Fakultas Ekonomi Universitas Jember. Ada acara diskusi buku Nicotine War, karya Wanda Hamilton. Buku yang sebenarnya bagus, hanya saja, seperti buku-buku provokatif lainnya terbitan Insist saya tidak melihat hal-hal baru selain perjuangan kelas, buruh, selubung kapitalisme bla-bla-bla. Tapi untuk buku bacaan ringan dan sekedar pengantar untuk pemahaman dunia per-tembakau-an saya kasih jempol 7 untuk buku ini. Gak mahal-mahal banget, yah sekitar 22.000. Bisa lah kalau kalian gak ngerokok 2 hari untuk mendapat buku ini.
Saat diskusi itu berlangsung saya bertemu dengan "tuan Kecil". Teman saya, yang aslinya bernama Maruf Ikrar Dinata, calon Layouter majalah Tegalboto. Ia bertanya kepada saya, "mas sudah baca persma.com?" . saya jawab tidak, kenapa? Kok tumben baca persma.com? biasanya juga fesbukan kalo gak ya donlot bokep. "ada yang menarik! Liat aja sendiri" katanya memaksa sambil ia memperlihatkan ponsel canggih qwerty yang saya gaptek memakainya. Dengan sangat penasaran saya buka persma.com, lalu mata saya tertuju pada judul indah bohai nestapa gulana tralala "Punya Otak Tapi Bego" karya kawan Alfurofikaaa dari LPM Pabelan UMS (kata Hanif yang anak Kentingan Universitas Meh Solo). Yuhu, butuh nyali yang luar biasa besar untuk menulis judul seperti itu, judul provokatif terakhir yang saya baca adalah The End History nya Fukuyama. Dimana dengan sotoy dan arogan mengatakan bahwa akhir perang idiologi telah berakhir dengan kemenangan telak Kapitalisme, bah buku sampah kata ustad Ucok dari Homicide.
Kembali pada tulisan Alfurofikaaa tadi, tulisan ini sebenarnya merupakan data akurat yang 100% benar dan tak perlu lagi verifikasi. Dan tak perlu mendatangkan Bill Kovach begawan jurnalisme Amerika untuk mengatakan bahwa tulisan ini benar dan memenuhi kaidah 9 elemen jurnalisme yang dituangkan olehnya bersama Tim Rosentiel (meski saya ragu beliau melakukan verifikasi terhadap objek berita). Isinya sih sederhana, beliau (Alfurofikaaa) sedang enak-enak tidur lalu datang segerombolan daging beridentitas anak PPMI Dewan Kota Jogja yang sedang datang berkunjung ke Pabelan. Lalu melakukan tindakan kurang menyenangkan dan mengganggu ketertiban umum dengan berkata-kata kotor dan menghina ormas islam. Lalu ia kecewa dan menuliskan hasrat derita hati dan kecewa mendalam pada medium persma.com. Voila, lahirlah banyak kontroversi yang sebagian besar dilakukan oleh saya sendiri. Hehehehehehe.
Kawan saya yang lain tadi siang komen status saya di facebook. Mita Kusuma namanya dari LPPM Unlam. Kira-kira ia bilang "haha ikut ketawa saja, karena beda adat". Ups akhirnya saya sadar, eng ing eng mungkin benar kata Mita, Alfurofikaaa hanya kesal karena ia berbeda budaya dan adat dengan kawan-kawan dari Jogja (apalagi Jember?) lalu kecewa dan menulis artikel tersebut. Mungkin tanpa tendeng aling-aling dan mengecewakan beberapa orang teman. Tapi seperti kata bon Jovi give me a love a bad name. Yah kadang-kadang cinta itu tidak dibahasakan dengan "Aishiteru" atau "yank ML yuk". Tetapi bisa juga dengan kemarahan, umpatan bahkan dengan uppercut dibawah dagu. Tetapi sekali lagi meminjam istilah David Chaney itu sekedar illusory surfaces hanya sekedar penampakan luar. Kita tidak bisa menilai seseorang hanya pada satu sisi perkataan dan tingkah laku untuk mengatakan bahwa orang itu bejat dan amoral. Hal itu seringkali saya buktikan, di Jogja saya bertemu dengan saudara sebut saja Yandri yang illusory surfaces liar beringas kejam dan rusuh ternyata dulunya adalah pegiat pramuka sama seperti saya. Dan P Sulistiya... oke dia baik. Maksud saya adalah jangan menilai orang hanya dari cangkangnya saja, saya pasti akan mahfum orang akan benci dan ingin merajam Lady Gaga karena pakaian norak asu dan selera musiknya yang sekualitas air di Mumbai. Tetapi siapa sangka Lady Gaga adalah lulusan Julliard School, sekolah seni bonafide di Amerika yang hanya menerima 20 orang saja pertahunnya? Itu sangat tidak adil.
Saya tidak tahu siapa saja yang datang saat itu di Pabelan. Rombongan dari Jogja itu baik loh, setidaknya masih memiliki tata krama feodal ala Jawa. Tidak seperti rombongan Jember yang apa sih tuh LPM opini yang gak jelas tegal tegalan bolot? Ya itulah pokoknya itu, mereka itu sudah slengean, ngupilan, punya ilmu makan tanpa kunyah lagi. Hati-hati mbak Alfurofikaaa kalau bertemu dengan anak-anak Jember. Kalo perlu baca surat yasin, ayat kursi dan sebar garam disekeliling sekret anda.
Mungkin ada baiknya polemik ini dihentikan saja, sayang pada kawan-kawan lain yang memanfaatkan persma.com sebagai alat untuk perjuangan di daerah. Apakah kita tidak malu pada kawan aha gambreng, bung hakim dan m2t yang sudah payah melakukan reportase, liputan dan pada akhirnya berita idealis mereka hanya kalah dari sensasi banal ala tv media? Tentu saja tidak, jangan sampai malah. Tolong isu-isu lokalitas yang menjadi semangat persma.com agar dapat mengawal isu tersebut ke nasional tidak hilang dijalan. Karen kekecewaan. Ingat lah ingat! Jagalah hati jangan kau nodai. Sebelumnya saya hanya mengaku, saya bukan NU, bukan Muhammadiyah dan amit-amit jabang BABI bukan FPI. Sekedar mengutip Abu Hurairah mendengar dari Rasulullah "Sesungguhnya seorang hamba yang mengucapkan suatu perkataan yang tidak dipikirkan apa dampak-dampaknya akan membuatnya terjerumus ke dalam neraka yang dalamnya lebih jauh dari jarak timur dengan barat" Shahih Bukhori 6477. saya seringkali khilaf dalam kasus ini, boleh lah dicoba ketik nama saya di google maka anda akan menemukan hasil pencarian orang imbisil korban pelecehan seksual sebuah lpm di Jogja. Oh salah, maksud saya beberapa posting saya memang memancing kerusuhan. Dan saya sadar itu salah, tapi salah yang enak.
Akhirul khalam seperti kata the Who
People try to put us d-down (Talkin' 'bout my generation)
Just because we g-g-get around (Talkin' 'bout my generation)
Things they do look awful c-c-cold (Talkin' 'bout my generation)
I hope I die before I get old (Talkin' 'bout my generation)
We are the generation that should breaktrough all the wall! Semoga persma.com bukan sekedar one hit wonder. Menggebrak pada satu zaman dan akhirnya berkompromi dibawah selangkangan zaman. Aih nista! Hahahahaha.
*Ditulis sambil mendengar Carla Bruni dan Julie London berceloteh riang
Tag: cultural studies, citra, kajian budaya
Terkait:
-
Elit dan komodifikasi citra Sebuai esai tentang iklan kampanye di Televisi
Jumat, 23 Okt '09 16:17 -
Ternyata Saya Masih Belum Memahami Arsip!!!
Jumat, 9 Okt '09 21:18
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
kailila: Bagus
-
m2t: Bagus
-
dewi alfath: Bagus
-
sisca civitas: Bagus
-
BJ: Responsif
-
cayo teLo: Bagus
-
genjas: Penting
-
Prima S W: Responsif
-
Wahyu Eko P: Responsif
-
Oo Zaki: Responsif
-
ika journal: Bagus
-
Dwiki: Bagus
-
FF Haq: Biasa
-
Die Key belajar nulis: Perlu
-
anonymous:
-
Fandy Lasinrang:
-
Kusbono Ardinata: Bagus
-
nenden pabelanis: Responsif
-
Rizki: Bagus
Komentar:
hahahahah
berita sensasi bkl bertahan lama tuh
Menurut Cak Nun, semua masalah bisa diselesaikan dengan ilmu yang dimiliki oleh manusia. Untuk itu, manusia perlu mencari cara penyelesaian masalah tersebut.
“Hidup itu kan sebenarnya sederhana. Kalau ada asap dicari apinya. Kalau ada api dicari sumbernya. Kalau ketemu sumbernya dicari kenapa ada sumber itu. Jadi sebenarnya mau masalah rumah tangga, masalah masyarakat, masalah aliran, masalah kelompok-kelompok dalam negara kan ada jalan yang namanya ilmu,” kata Cak Nun.
NB: Perihal "9 elemen jurnalisme", saya skeptis juga...
(mencoba memperbaiki rapor 'merah')
ngomong opo seh...
Apa jadinya kalau pasukan cocot Jogja berangkat semua ya???
Mungkin bisa lebih keruh masalahnya, tapi tidak apa ini sebagai pelajaran aja yo...
Sesekali merapatlah ke pesisir-pesisir berikut: Obor Ilahi (Malang), Tali Ka Asih (Bandung), Papparandang Ate (Tinambung, Mandar, SulSel), Bangbang Wetan (Surabaya), Kenduri Cinta (Jakarta), Gambang Syafaat (Semarang), Macapat syafaat (Yogyakarta).
Biar bung: FF Haq, Al Ahibba, dhani saja cukup, genjas, si berang-berang, cayo telo, bung hakim, dkk. yang katanya 'intelek anarkis', sekaligus Cocot e bau jadi lebih tau How 'Asu' you are!
Ha ha ha ha9x12....Persma.com hanyalah bagian kecil dari saya, apalagi Indonesia...
(jadi malu kelihatan bodoh saya di dpn cah cah PPMI & persma.com) Mohon diajarin ilmunya...nuwun sewu
apalagi yang kena adalah PPMI nya...
aku sedih...
kenapa harus kayak anak kecil.
sudahlah biarin yang memang gag suka celoteh anak anak jogja..
Happy Hooker!
"It makes people feel they’re not going to do anything because, unless I somehow understand the latest version of post-modern this and that, I can’t go out in the streets and organize people, because I’m not bright enough."
Saya suka dgn kata2 yg diucapkan oleh Noam Chomsky di atas meskipun makna dan artinya itu sudah teramat sering saya dengar dari Cak Nun.
Selamat melingkar, happy hooker! Hook me up, darling...
sip sip.
saya suka jadi asu. hahaha.
mari merayakan ke'asu'an, karena kemanusiaan sudah bukan milik kita. uda laku di pasaran sih.
okelah, kalau anda memaksa saya untuk sama dengan apa itu, postmodernis...
tapi saya tetap yakin anda benar2 islami...
iya, seperti yang ditulis di kitab2 itu.
You making me ill, I said O..o..
You're just a cheaper, oh no! that i said.
When i wanna go, and i got to go
Yes! I'm sorry darling.... See More
Now we are two O.o...
...
(Holy City Rollers - hook up)
^_ piss
I got to go, I see you later, bro.
hahaha buat elo yang ngaku anarkis
"damn you bastard... you must die like zerzan voice's"
tapi memang salut untuk tulisan sangat ga jelas ini. banyak bawa referensi nama: keknya temennya banyak banget sampai hadi sutresna saja kupingnya merah...
walaupun isinya bener-bener ga jelas antara tema dan isi tulisan, membaca ini rasa-rasanya mengingatkan pada sensasi setiap harus ke wc karena memakan sambal kebanyakan. c'mon friend you just like zoellick ass in WTO Conference...
xixixixi
Heh anarko karbitan. Insureksionis pen*s. Pake nama anonymous segalah. Belagak subcomadante lw? Malu pake nama panjulwatiningsih? Gw bakar nyaho lw.
Buat semua anarkho sok funky sejagat.
Eat that muthafucka equality out of your ass! Its copyrights time!
Pesisir BJ. Bahasanya berat. Saya ndak paham
hahaha... tapi trims buat kritikanmu, mungkin kita juga harus bersenjata seperti blackbloc, CNT-AIT, atau juga Zapata. untuk melawan US Army.
anarkis rek...
santae ae men...
saya memang tidak memiliki diksi dan ekpresi seliar nuran, tapi kalo sekedar ngelayanin cocot kelas tinja macam ente mah gak perlu baca buku. cukup liat berak dan penandanya saja sudah cukup.
anarkhi=banci! hahahahahahaha pret! Bakunin maniac!
gimana mau ngerti otaknya gak ada strata, semua sama cih!
yah. sebagai salah satu awak LPM Pabelan, saya jadi merasa tidak enak juga kalau memang salah satu rekan saya melakukan 'perbuatan yang tidak mengenakan'..
pokoknya hidup PERSATUAN.. hidup PERSMA!
dhani inlander: itu bukan gue, nyet. pokoknya nick gue Joker, selain itu bisa dipastikan bukan gue.
mawar akan tetap merah-mewangi meskipun namanya bukan mawar...
coz we're the men in black
cos you're like shit!
Silahkan login untuk memberikan pendapat