Strong Hold dan Patriarki 2

Selasa, 20 Apr '10 16:17

 

Seorang kru sedang asyik tidur leyeh-leyeh di ruangan kru sambil komat-kamit menirukan lagu yang sedang di putar. Kemudian datanglah seorang lainnya, yang kemudian menghidupkan komputer sambil berkata ‘kene lo dolanan-dolanan po piye? Jo mek tura-turu... Strong Holan kene lo. Lanang ki kudu iso mimpin negoro, nah... mulailah dengan dolanan strong hold.' Katanya. Kru yang tadinya leyeh-leyeh akhirnya tergoda dengan kata-kata teman ku yang baru datang tersebut.
Permainan Strong Hold dengan dunia laki-laki, adakah hubungan yang signifikan antara keduanya?
Di kantor redaksi, saat ini, memang belum diketemukan orang yang memainkan strong hold (selanjutnya baca SH;red) kecuali kru laki-laki. Entah kru perempuannya yang memang tidak suka atau memang tidak mau atau apa? Namun, dimana ada SH sedang dimainkan, di depan layar hanya aka nada kru laki-laki. Di sadari atau tidak, ternyata, frame tersebut sudah mengakar.
Budaya patriarki, budaya yang mengajarkan seorang laki-laki harus berada di depan membuat kebanyakan atau bahkan hampir semua laki-laki berfikiran bahwa mereka memang harus berada di depan, dalam artian sebagai pemimpin. Dengan adanya pandangan tersebut, jika laki-laki menemui ungkapan atau perkataan yang menyangkut dengan ‘kelaki-lakian' pasti mereka akan dengan gampangnya setuju. Seperti contoh kasus di atas, ‘lanang ki kudu iso mimpin negoro, mulailah dengan strong hold'.
Bermain game SH memang membutuhkan kejelian dan keteraturan juga strategi yang kuat, sehingga dalam setiap pengambilan keputusannya, diharapkan akan bisa berdampak baik. Permainan laki-laki kah ini? Kebanyakan orang akan mengatakan iya! Namun, tak banyak diantaranya yang mengatakan ah nggak juga!. Terlepas dari benar atau tidaknya jawaban mereka, namun yang menarik di sini adalah, kegiatan yang berhubungan dengan strategi, kejelian, berfikir, kecakapan dan lainnya sering disandangkan dengan laki-laki, sekali lagi, kita tidak mungkin serta merta kemudian menyalahkan, ‘kalau perempuan pingin main SH ya main aja... kenapa mesti repot?'
Jawaban dari pertanyaan tersebut memang bukan lagi menjawab sesuatu yang berakhiran ‘ingin' atau ‘tidak ingin'. Tapi, keadaan yang kuat yang berasal dari luar diri perempuan, atau kita sebut sebagai sistem, yang mengakibatkan bahwa perempuan nggak pantes bermain game seperti itu. Pernah seorang teman laki-laki yang main ke kantor redaksi kemudian melihat aku sedang bermain TILE (sejenis permainan menyamakan), berujar,' kalo cewek mbok ya sekali-kali main strong hold atau soldier apalah itu, biar keren...!' dari sini kemudian sedikit demi sedikit mulai terlihat, secara sadar atau nggak, bahkan berbicara soal game, itu pun juga ada distinguish, perbedaan. Entah bermaksud membedakan atau tidak, tapi yang jelas jarang diketemukan perempuan yang mengidolakan Lara Croft, seorang aktor perempuan game animasi yang seksi.
Kembali lagi ke strong hold, adakah kemungkinan ini sama halnya ketika kita masih kecil dulu, di jaman bauhela, ada pandangan umum yang bilang, boneka Barbie, main rumah-rumahan itu buat mainan cewek sedang mobil-mobilan, robot atau perang-perangan itu buat cowok, kalau sekarang menjadi, strong hold itu adalah mainan laki-laki sedangkan TILE adalah mainan perempuan?

 


Tag: LPM, dimensi

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Como Bacomboy 0 0
Saya paham sekali permainan itu..
dan saya sadar guna dan bahaya permainan itu : )
fu'ah DIMENSI 0 0
iya betul!!!!

Silahkan login untuk memberikan pendapat