Triumvirate 4

Rabu, 10 Mar '10 17:17

 

"look up now, way up"[i]

            Ada tiga tamu baru yang mengisi ruang publik Universitas Jember (Unej). Tiga tamu tersebut adalah monumen Triumviraat pendiri Unej. Monumen yang konon menghabiskan dana sekitar 900 juta tersebut nampak gagah berdiri di depan tugu bertuliskan Universitas Jember. Saya ingat sekali saat saya menjadi mahasiswa baru, tempat itu hanya berupa sebuah halaman dengan kolam air mancur yang tidak lagi beroperasi. Saya menyebutsnya dengan "Boulevard Unej" Banyak kotoran berupa daun-daun, botol minuman dan sampah lainnya. Di belakang kolam "gak jelas" itu terdapat sebuah prasasti yang saya lupa apa isinya. Namun kini semua itu sudah hilang, dan berganti dengan tiga sosok pendiri Universitas kita tercinta ini.

            Memang segala bentuk pembangunan, pembongkaran dan perbaikan yang ada, mutlak tanggung jawab dan hak dari Universitas sebagai si-empu-nya rumah. Namun menjadi sangat naif, jika segala pembangunan dibuat tanpa ada nilai estetika dan keberdayagunaan. Dalam hal ini saya menyoroti perusakan, pembangunan dan penghancuran terhadap 3 lokasi melegenda dari Unej. Yang pertama adalah Panggung terbuka di Fakultas Sastra, Democratic corner di Student Advisory Council (S.A.C) dan yang terakhir adalah Boulevard Unej.

Setiap sore boulevard Unej tersebut dimanfaatkan oleh banyak mahasiswa untuk melakukan kegiatan olah raga, dan juga ada 3 UKM beladiri yang memanfaatkan tempat tersebut untuk latihan. UKM Karate salah satunya. Dody Bayu Prasetyo, Mahasiswa Hubungan Internasional angkatan 2006, yang juga fungsionaris UKM Karate ini misalnya, pernah menjalani suka duka bersama melakukan peregangan dan latihan "Kata" di Boulevard Unej. "walau biayanya mahal, itu (patung) tapi masih banyak hal-hal yang masih perlu dipenuhi seperti fasilitas perkuliahan" jawabnya. Dody yang juga tercatat sebagai pegiat organisasi ekstra kampus ini juga menambahkan bahwa, pada awalnya mereka kebingungan saat ada pemugaran di Boulevard Unej itu. "ganggu sih enggak buat sekarang, tapi awalnya ganggu banget buat kegiatan UKM" ujarnya.

Pemugaran atas nama identitas dan pencitraan memang tidak salah. Dalam beberapa hal sangat berguna dan baik sekali malah. Namun apakah hal tersebut subtantif? Pernah saya berdiskusi dengan seorang kawan, yang malah sangat sinis memandang pembangunan Unej ini sebagai tindakan kurang penting. "lha, daripada dibuat bangun-bangun (pembangunan jalan dan gedung) lebih baik perpustakaan itu ditambahi koleksinya, bisa bikin pinter!" ujarnya berapi-api. Kawan saya ini memang sudah lama lulus dari Unej, tetapi pemikirannya masih saya ingat dan saya resapi. Sesekali saya juga memiliki pemikiran liar, penambahan buku itu baik, tapi kalau minat bacanya rendah? Bukankah itu hal yang sia-sia juga? Saya tidak yakin jika menambah jumlah koleksi buku akan membuat minat baca dan meningkatkan kualitas pendidikan kita.

            Lokasi lain yang menjadi perhatian saya adalah panggung terbuka di Fakultas Sastra. Hampir semua seniman dari Universitas Jember mengenal panggung terbuka sastra, sebuah lokasi dimana puluhan pementasan teater, puisi, musik dan orasi digelar. Sebuah tempat dimana mahasiswa kritis biasa beraktualisasi. "Dulu mahasiswa yang mau pakai (panggung terbuka sasra), harus berebut, karena banyak sekali yang mau pakai" ujar Drs. Ilham Zoebazari M.Si salah satu dosen Fakultas Sastra Unej. Ia kemudian bercerita bahwa pada zamannya, panggung terbuka sastra telah menjadi semacam ikon berkesenian Unej. Setiap jam istirahat mahasiswa, ada saja yang berekspersi di tempat itu, mulai dari berpuisi, sekedar berorasi atau untuk latihan teater.

            "Saya ingat, dulu Isnadi berpuisi disana" ujar Drs. Andang Subaharianto. M.Hum Pembantu Rektor 3 Unej. Dan Isnadi yang dimaksud adalah seniman yang pernah menjadi teman kuliahnya dahulu. Alumni sastra yang juga masih aktif mengajar di almamaternya, bercerita bahwa dulu sastra tidak memiliki panggung terbuka. "Biasanya ya kita beraktualisasi di halaman saja, di kampus, yang sekarang jadi fakultas Farmasi" katanya menambahkan. Kenangan atas lokasi yang pernah menjadi lokus berkesenian mahasiswa Unej ini seakan menjelaga. Pak Andang, begitu saya biasa menyapa beliau, bercerita lumayan banyak mengenai kesenian, gerakan mahasiswa dan ruang publik dimasa ia kuliah dulu.

Lain lagi dengan nasib Democratic Corner yang ada di kawasan Student Advisory Council (SAC). Tempat yang dulu pernah garang bersuara pada era Orde Baru, kini kondisinya hancur berantakan. Minimnya perawatan dan pemanfaatan menjadi salah satu faktor yang turut serta dalam usaha penghancuran lokasi ini. Saya ingat sekali pada masa awal saya berkuliah, sekitar akhir tahun 2005, panggung tersebut riuh dengan aksi musisi. Hampir setiap pekan ada saja acara musik yang dilangsungkan di Democratic Corner. Sebagai anak muda yang selalu up to date, gaul dan eksis. Tentu saja saya selalu menghadiri perhelatan akbar musik tadi. Mulai dari booming hip-hop yang musiknya itu-itu saja, sampai mekarnya musik Regae di Jember. Boleh jadi saya dan Democratic Corner  menjadi saksi sejarah musikalitas off air kota Jember.

Mungkin saat ini anda sekalian, dalam hal ini warga sekitar Unej, akan jarang menemui acara-acara musik yang diadakan dikampus. Jika diadakanpun tidak dalam lokasi yang strategis seperti di SAC atau parkir gedung Soetardjo. Hal ini karena adanya peraturan baru dari Rektorat Unej yang mewajibkan setiap acara komersil yang menggunakan sponsor, untuk membayar semacam 'pajak sewa' terhadap Unej. Keresahan kemudian lahir dalam diri saya, akankah ruang-ruang berekspresi tertelungkup? Karena terkendala birokrasi, peraturan dan pajak? Entahlah, dalam banyak hal ruang publik memberikan luka terhadap para penggunanya. Tempat yang kumuh, kotor, tak terawat dan kerusakan adalah salah satu penyebabnya. Mengapa hal ini terjadi? Kedewasaan para penggunanya dalam memanfaatkan ruang publik, menurut saya perlu dikaji ulang. Kebebasan tanpa kebijaksanaan melahirkan chaotic room[ii], ruang tanpa aturan yang melahirkan kerusuhan.

Chaotic room bisa anda lihat pada representasi kondisi democratic corner di SAC saat ini. "Dulu Democratic Corner itu tempatnya mahasiswa untuk berorasi kalo lagi demo" ujar Widi, mahasiswa veteran asal fakultas sastra sambil menghisap rokoknya. Lalu bagaimana kondisinya kini? Anda bisa melihatnya sendiri, mimbar yang pernah menjadi ruang publik untuk berpendapat itu luluh lantak. Korban dari pembenahan infrastruktur Unej yang bersiap menuju universitas berstandar Badan Hukum Pendidikan (BHP). Kenapa saya mengatakan hal ini? Dalam pengalaman saya dibeberapa Universitas negeri ternama, seperti Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Hasanudin, Universitas Gajah Mada, Universitas Brawijaya dan Universitas Airlangga. Terjadi kemiripan yang sama saat pembenahan infrastruktur menuju universitas dengan standar BHP. Kemiripan tersebut ialah pertama, terjadi pembenahan (pengalihfungsian) terhadap infrastruktur yang dianggap tidak komersil dan membebani pembiayaan universitas.

Kedua, selalu saja ada semacam monumen yang berdiri, entah itu patung, menara, atau bahkan dolmen. Monumen-monumen tadi menjadi semacam tonggak tanda perubahan status universitas 'bersubsisi pemerintah' menuju universitas berstandar BHP. Ketiga, mahasiswa, khususnya anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dalam beberapa hal seringkali menjadi korban dari kebijakan universitasnya. Di Universitas Brawijaya dan Universitas Islam Negeri Malang misalnya, pengalihfungsian Gedung Kesekretariatan bersama UKM menjadi gedung infrastruktur telah membuat kegiatan organisasi menjadi terganggu, karena harus menyesuaikan keadaan, belum lagi kebijakan baru yang mengikutinya. Kebijakan seperti jam malam, parkir berlangganan, dan portalisasi. Kebijakan semacamini sudah dilakukan dibeberapa universitas di Indonesia, tujuan sederhana, Uang! BHP melahirkan wajah baru kapitalisme dalam pendidikan dan sekali lagi mahasiswalah yang menjadi korban.

Mark Fernandes dalam Against Modernity menyindir keberadaan almarhum World Trade Center sebagai bentuk monumen kapitalisme, yang mengakangi keberadaan bangunan disekitarnya.  Simbolisasi sebuah benda-dalam hal ini bangunan- adalah sebuah hal yang biasa kita temukan. Namun seringkali tak kita sadari maknanya, keberadaan masjid, gereja, gedung DPR, patung dan air mancur bisa menjadi sebuah simbol terhadap pengkultusan manusia akan suatu hal. Ruang publik dalam sisi lain adalah sebuah representasi area demokrasi. Siapapun boleh berpendapat dan mengekspresikan diri asal tidak menyalahi hak orang lain. Meminjam terminologi Hatib Abdul Kadir Olong Sangaji[iii], Autonomous Zone, area dimana orang bisa melakukan hal-hal yang ia sukai selama tidak melanggar batas-batas yang dianggap merugikan sesama.

Kini nasib dari ketiga area Triumvirate tadi memang sudah jadi kenangan. Menjadi sepenggal sejarah dalam berdirinya Unej. Boulevard mungkin sedikit lebih baik, dengana danya trio patung keemasan, keberadaannya tidak akan hilang. Hanya berganti rupa menjadi lebih elok dan seksi. Saya pribadi memiliki kenangan sentimentil dari ketiga tempat itu, secara pribadi maupun kolektif bersama teman-teman seangkatan saya. Sedikit lagi saya wisuda, mungkin, semoga saja, tapi dalam beberapa tahun kebersamaan saya dengan Unej sudah banyak yang berubah. Evolusi diri Unej semakin membuat saya asing. Ini adalah sebuah refleksi diri saya atas keberdayaan ruang publik. Sebuah refleksi yang semoga anda juga merasakan! []

 

 

bisa anda baca secara lengkap di Tegalbotopos Edisi VII. produk terbaru dari UKPKM Tegalboto.

dapatkan segera di Komplek PKM Unej. Warung Bu Lek dan beberapa vendor penjualan media terdekat di kota Jember :P


[i] Mark Fernandes dalam Against Modernity; A conversation With Jean Baudrillard

[ii] Terminologi yang saya buat dari pemahaman saya tentang chaos, sebuah kondisi tanpa aturan yang lahir karena ketiadaan aturan (order) sehingga siapapun yang ada didalamnya merasa memiliki kebebasan tanpa batas. Kebebasan yang melukai hak dan keberadaan orang lain.

[iii] Seperti yang ia tulis dalam Jurnal Balairung edisi 40/XX/2006, Geliat Dugem sebagai Ritual Baru pada Tubuh Kaum Urban, sebuah studi tentang kehidupan malam di kota Jogja, representasi kebebasan dan keriuhan hasrat dunia gemerlap (Dugem), dan kajian terhadap beberapa Klub Malam di Jogja.

 


Tag: Unej, BHP, Tegalboto, pemugaran

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

si nody 0 0
hati-hati ada uang rakyat yang diduga digelapkan untuk pembangunan tiga patung tersebut. Honor dosen Unej yang dipotong telah tiga bulan tidak dibayar karena benda itu.
si nody 0 0
Dari awal saya lebih sepakat kalau patung itu adalah patung como bersaudara. Zaki, como, dan riski. Setidaknya bisa membuatku tertawa jika melewatinya. Bayangkan hampir satu M uang mahasiswa yang dihabiskan untuk itu.
dhani saja cukup 0 0
loh kok como dan zaki? harusnya patung seksi saya dong!
Rizki 0 0
dhani saja cukup: Opo rek kok nama saya dibawa2, saya ini keren dan gak mau dipatung2kan atau disimbolkan dengan hal apapun. : D

Silahkan login untuk memberikan pendapat