Menilik Peran Pemuda/Mahasiswa Harapan Banua Banjar? 6
Senin, 22 Feb '10 16:38
Sejarah Indonesia mencatat, gerakan mahasiswa terkadang pada momentum tertentu menemui titik keemasan dan menjadi motor perubahan, namun juga tidak sedikit gerakan mahasiswa mengalami disorientasi yang berujung pada keterpurukan. Apakah gerakan mahasiswa telah gagal dan kehilangan makna? Sehingga sekarang kehadiran dan tekanannya kurang dirasakan.
Dalam realitasnya, gerakan mahasiswa saat ini sulit beradaptasi dengan gerakan masyarakat sipil lainnya. Bahkan tidak sedikit terjebak pada pola yang sempit, yakni mengartikulasikan "gerakan" hanya pada satu atau dua metode, sehingga isu-isu yang akan disampaikan kurang dirasakan oleh masyarakat maka hasilnya dukungan dan simpati dari masyarakat terhadap gerakan mahasiswa tidak terlalu besar.
Dalam beberapa kasus, khususnya untuk isu-isu Hak Asasi Manusia (HAM) ataupun ekonomi sosial dan budaya (ekosob), semakin jarang ditemukan mahasiswa mengambil inisiatif untuk bergerak. Meski tidak bisa dipungkiri ada sebagian mahasiswa yang secara sadar dan aktif turut terlibat dalam beberapa aksi kemanusiaan, seperti membantu bencana alam, kekerasan oleh aparat negara, skandal Bank Century, korupsi, dan beberapa isu-isu lainnya. Namun format gerakan yang dibangun masih terkesan sporadis dan tidak cukup memiliki konsistensi sehingga kurang diperhitungkan oleh penguasa.
Bahkan dalam kehidupan di kampus, aktivis mahasiswa saat ini hanyalah kelompok minoritas dan kurang mampu memberikan warna terhadap kelompok mayoritas mahasiswa yang cenderung hedonis, apolitis dan sebagian terjebak pada pragmatisme hidup yang hanya memuja materi sebagai ukuran dari kualitas hidup. Khususnya Unlam (Universitas Lambung Mangkurat) di Kalsel ini, fenomena Pemilu Raya Mahasiswa yang terancam gagal karena ketiadaan kandidat calon presiden mahasiswa adalah salah satu contohnya. Yang lebih menyedihkan Pemilihan Rektor sekalipun terindikasi cacat hukum. Terbitnya surat Mendiknas dan surat Irjen Depdiknas menambah rumitnya masalah, karena kedua surat tersebut lebih sakti dibanding keputusan senat universitas sehingga mengharuskan adanya pemilihan ulang rektor.
Lambatnya Mendiknas menentukan sikap siapa yang layak untuk memimpin Unlam lima tahun ke depan adalah sebagai satu penyebab makin terpuruknya universitas tertua di Kalsel itu. Sudah saatnya aturan menteri (Permen Diknas No 67 Tahun 2008) yang menaungi tata cara pemilihan rektor ditinjau ulang, karena terbukti tidak lagi bisa mengakomodasi tuntutan zaman di era keterbukaan dan kebebasan akademik. Akibatnya demokrasi di perguruan tinggi berjalan pincang. Lebih jauh lagi, agenda pendidikan murah (menolak privatisasi pendidikan) dan rombak kurikulum agar berpihak kepada rakyat jalan ditempat, bahkan tak terdengar lagi.
Persoalan mendasar dari gerakan mahasiswa saat ini adalah sulitnya menemukan momentum. Jika kita simak secara seksama, banyak faktor yang mempengaruhi situasi ini, pertama gerakan mahasiswa harus segera menemukan jati dirinya kembali sebagai agen perubahan (agent of change) dan gerakan moral. Kedua, harus mampu berkontekstualisasi dengan isu-isu kerakyatan, sehingga tidak lagi berjarak dengan gerakan masyarakat sipil lainnya. Ketiga, mampu membangun konsistensi sehingga tidak lagi muncul gerakan parsial dan sporadis.
Situasi rakyat Indonesia saat ini belum menunjukkan sebagai entitas ideal dari sebuah masyarakat demokrasi. Daya tawar masyarakat Indonesia masih lemah di mata negara, masyarakat (people) masih menjadi subyek musiman dalam pemilu lima tahunan. Daya tawar (kedaulatan) rakyat baru terlihat ketika masa kampanye dan menjadi pemilih (voter) di dalam bilik suara. Namun setelah itu, ketika masa pemerintahan berlangsung, kebijakan pemerintah jarang merujuk kepada suara rakyat sebagai pertimbangan utama. Inilah paradoks demokrasi di Indonesia hingga hari ini.
Namun saat ini, peran gerakan mahasiswa sebagai gerakan intelektual sangat penting untuk mengambil inisiatif membantu penyadaran politik terhadap masyarakat. Agenda ini selanjutnya akan menjadi kata kunci untuk mengartikulasikan gerakan mahasiswa dalam masa transisi menuju penemuan identitas gerakan mahasiswa yang sesungguhnya. Dalam kurun waktu lebih dari sebelas tahun reformasi, makna substansial yang hilang dari gerakan mahasiswa adalah "peleburan" bersama rakyat.
Sebagai simbol gerakan oposisi, kondisi gerakan mahasiswa di Indonesia saat ini mengalami penurunan baik kualitas maupun kuantitas yang disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya pertama, gerakan mahasiswa mulai kehilangan fokus karena tidak lagi menemukan musuh bersama(commont enemy). Kedua, gerakan mahasiswa tidak mampu berkontekstualisasi dengan tema-tema sosial politik yang terus berkembang secara dinamis, sehingga mulai terjadi jarak dengan isu-isu kerakyatan. Ketiga, gerakan mahasiswa tidak jarang mulai terperangkap bahkan diam-diam berafiliasi pada kekuatan politik yang berorientasi pada kekuasaan. Keempat, gerakan mahasiswa mulai terhimpit oleh pengaruh arus deras globalisasi informasi yang disajikan dalam berbagai bentuk melalui media cetak dan elektronik.
n_n
(makanya jadi mahasiswa ikutan lembaga Pers biar cerdas dan trampil)
Terkait:
-
Transisi Demokrasi dan Pilkada Kalsel 2010.
Sabtu, 20 Feb '10 21:38 -
Renungan Pilkada Kalimantan Selatan
Sabtu, 30 Jan '10 12:24 -
Refleksi Bulan Safar
Minggu, 17 Jan '10 21:20
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Oo Zaki: Bagus
-
Kemuning: Penting
-
kailila: Penting
-
BJ: Responsif
-
Rizki: Penting
-
Como Bacomboy: Bagus
-
Wahyu Eko P: Bagus
-
FF Haq: Responsif
-
muhammadhariyanto: Responsif

Komentar:
Piye...piye? Gerakan sosial diisi kaum elit oligarkhi sedangkan gerakan mahasiswa diisi mental pragmatis.
wes, wabot tenane
hikz
Apanya yang jadi pembeda dengan masa lalu..masa-masa keemasan gerakan mahasiswa..
Harus kita hangat khan kembali suasana zaman ini.
dengan tulisan yg agak "kompor-komporan" lah
Silahkan login untuk memberikan pendapat