Teologi Pembebasan Sederhana 3
Selasa, 3 Nov '09 21:14
Sejarah Teologi, setidaknya selalu saja berputar antara dua kemungkinan yang bertolak belakang, yakni penindasan sekaligus pembebasan. Sebuah variabel ganda yang pada hakikatnya sangat berbeda, namun dalam proses, seringkali seiring sejalan. Coba tengok kelahiran Reanisace. Abad ini diawalai sebelumnya oleh sebuah tanda, bahwa agama sebagai sebuah sistem penindasan yang sangat sistematis, telah dengan sangat terstruktur melakukan penindasan. Adanya surat Al Aflat, atau surat pengampunan dosa yang diperjual belikan, menjadikan agama saat itu tak lebih daripada sebuah pranata yang tak jauh dari kepentingan perut dan kepentingan kantong semata. Maka sebagai jawaban atas itu, muncul pula sebuah spirit perubahan yang menjadi bukti terbalik, bahwa agama juga menjadi sebuah alat untuk mebebasakan ketertindasan tersebut. Marthin Lutter, membuktikannya dengan reformasi gereja.
Ketika kita menilik situasi terkini, kita dapat menyaksikan betapa agama masih menjadi pranata yang kuat sebagai alat legitimasi kekuasaan dan legitimasi ketertindasan. Adanya doktrin dan fanatisme yang kuat di dalam diri mayarakat, telah menjadikan penindasan (mungkin pula kelak pembebasan) menjadi sangat mudah diatur. Sebagai contoh, kita ambil saja di Lombok, sebuah pulau kecil di gugusan kepulauan Nusa Tenggara Barat, yang terkenal dengan sbeutan pulau seribu satu masjid. Tidak ada (mungkin belum) harapan bagi orang dengan identitas agama non-islam untuk menjadi bupati atau gubernur, secerdas apapun ia, dan sebrilian apapun idenya. Masyarakat (yang mayoritas islam) telah begitu terdoktrin bahwa selain agama yang mereka anut, tidak ada agama yang baik, tidak ada agama yang toleran dan tidak ada agama yang rela menjadikan sebuah agama hidup dan berkembang. Dengan kata lain, semuanya penghasut, semuanya ingin mencelakakan mencelakakan sebuah agama tertentu. Terang saja ini akibat banyaknya salah tafsir dan adanya kebebalan yang barangkali (sengaja) dipupuk untuk diledakkan suatu saat oleh sebagian orang.
Di Lombok, Kyai memegang kekuatan legitimasi pembenaran yang sangat kuat. Jejaknya bisa terekam dengan jelas, bahwa ketika seorang Kyai besar di sana menentukan partai mana yang akan menang dan kalah dalam pemilihan umum. Seorang Kyai cukup berucap "mari bernaung di bawah pohon yang rindang" untuk memenangkan Golkar, atau "kiblat kita adalah Ka'bah" untuk memenangkan PPP, atau bisa dengan berkhutbah "kerbau adalah simbol Qurban" untuk menjadikan PDI pemenang pemilu dalam era Orde Baru dulu. Akibatnya, Kyai memegang kekuatan penting sebagai imam, sekaligus sebagai tokoh politik (pemimpin). Lihat saja gubernur NTB saat ini, atau bupati Lombok Timur, keduanya adalah keluarga besar Nahdatul Wathan (NW) sebuah organisasi islam lokal terbesar di sana, mirip NU di Jawa Timur, atau Muhammadiyah di Jawa Tengah. Hal ini terus berlangsung sejak lama, bahkan pemimpin yang ingin maju pun, setidaknya harus mendapat restu atau mengemis dukungan pada organisasi islam lokal. Bukan saja di tataran Indonesia baik local atau nasinal, bahkan di Amerika Serikat yang (konon) demokratis itu, seorang pemimpin masih dipandang dari penilaian apakah ia katolik, kristen protestan atau yahudi.
Pristiwa 65 sebagai contoh sebuah ledakan ekstrim sebuah golongan agama tertentu (dalam kasus ini islam) sebagai alat penghancur sebuah ideologi atau sebuah gerakan. Hanya dengan isu komunis sama dengan tidak beragama, sebuah lembaga agama tega menghabisi jutaan orang. Manusia-manusia yang setiap harinya rajin beribadah, sopan santun dan murah senyum tiba-tiba menjelma beringas, seolah hantu gentayangan bermata merah dan ingin menjadi pembunuh sebagai upaya jihadnya. Mereka tiba tiba berteriak, mengacungkan parang, membakar dan tiba-tiba menjadi pembunuh. Dari beberapa data, penghasutnya adalah Kyai, pemuka agama yang secara politis kalah akibat pengambilan tanah oleh petani yang mulai (diduga/dituduh) beridiologi komunis. Maka sertamertalah para santri menjadi pembunuh, menjadi pendekar-pendekar yang membasahi parang dan celurit mereka dnegan darah sesamanya. Agama telah menjadikan mereka bringas, memunculkan sebuah kekuatan asing yang tak terkendali dalam tubuh mereka. Terang saja jika apa yang dikatakan Marx, bahwa agama adalah candu masyarakat, bisa saja mendapat pembenaran pada kasus ini.
Namun, jika kita kembalikan pada konsep Teologi Pembebasan, maka kita bisa melihat potensi konflik, potensi penindasan, bisa jadi sejalan dan berbanding lurus dengan potensi pembebasan. Sejarah telah membuktikan bahwa abad kegelapan yang ditandai dengan adanya penyelewengan agama, adanya pengaburan ilmu alam dan adanya perselingkuhan agama dengan negara, berhasil ditumbangkan dengan agama pembebasan pula. Rekonsiliasi berbagai konflik, pun kadang selesai lewat jalur agama. Revolusi Iran, pencerahan kaum jahiliah oleh Muhammad, juga Reanisance, adalah sebagian contoh yang nyata, bahwa agama adalah spirit pembebasan dan seperti yang diungkapkan islam: rahmatan lil alamin.
Kefanatikan kelompok agama tertentu, atau kekuatan mereka memegang teguh agamannya bisa saja menajadi sebuah modal kuat gerakan masa yang massif untuk melakukan perubahan. Bukankah konflik dengan pengerahan masa besar-besaran seperti di Poso, Sambas, Ambon, Aceh, Lombok, begitu gampang digerakkan hanya dengan isyu agama tertentu? Kenapa agama saat ini susah dijadikan sebagai sebuah usaha atau gerakan pembebasan ketertindasan? Melawan penggusuran misalnya, kenaikan BBM, korupsi, upah buruh, buruh migran, dan kasus kemanusian lainnya. Agama, kan tidak hanya berurusan dengan Tuhan, dan hanya ada saat terjadi crash, dengan agama atau kelompok tertentu.
Tentu saja, hal ini bisa tercapai, kalau tokoh spiritual sebagai panutan dan sebagai pemegang legitimasi kepercayaan ummatnya menjadi suri tauladan yang baik menuju perubahan itu. Kalau saja di Indonesia Kyai, Pendeta atau Pastor, Biksu dan pemuka agama lainnya berani tampil menyuarakan penindasan, maka tentu saja akan banyak terjadi perubahan yang transdental. Kalau saja mereka menjadi orator saat kenaikan BBM, saat hari buruh sedunia, seperti Khomaini di Iran, Muhammad di Makkah, atau Marthin Lutter di eranya. Namun, kondisi ini tidak akan pernah ada dan terjadi, jika Kyai sudah hanya menjadikan pengajiannya sebuah momentum menina-bobo-kan kesadaran rakyat. Barangkali kita tak perlu bercerita panjang lebar tentang Teologi Pembebesan, karena hanya secara sederhana saja, harusnya agama sebagai simbol pembebasan bisa menjadi manifestasi sebuah kerinduan manusia akan kesejahteraan.
Tapi apa jadinya kalau Kyai sibuk menjadi dai musiman di bulan puasa, atau menjadi iklan HP 3G dengan dalih silaturrohmi. Negara akan makin kacau, jika pemuka agama makin rajin menyejajarkan diri dengan artis dan berbondong-bondong minta diberitakan di infotainment. Maka jadilah kita orang-orang beriman dengan kekerdilan hati, beriman dengan kepala dongol dan otak pendek, bahwa semua datang dari Tuhan dan semua sudah diatur, semuanya adalah yang terbaik dari-Nya. Jika kita berbicara demikian, maka habislah perkara, maka tak perlulah kita berdebat, tak perlulah kita berjuang menuntut perubahan. Maka sia-sialah saya menulis artikel ini. Bah!
Tag: Irwan Bajang, Teologi, Gerakan
Terkait:
-
“Gerakan Mahasiswa dan Rezim Neolib SBY-Boediono : Sebuah Refleksi”*)
Sabtu, 25 Des '10 08:00 -
Catatan Singkat Akhir Tahun, Gerakan Mahasiswa di Jakarta.
Jumat, 24 Des '10 23:32 -
“Gerakan Mahasiswa : Mau dibawa kemana?” -sebuah refleksi kritis gerakan mahasiswa–
Senin, 4 Okt '10 14:30
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Oo Zaki: Bagus
-
Rizki: Penting
-
Como Bacomboy: Bagus
-
nody arizona: Bagus
-
Kemuning: Bagus
-
FF Haq: Bagus
Komentar:
berbeda ruangnya dengan Komersialisasi Agama klo boleh saya simpulkan dari tulisan loe. Pada alam Indonesia, dg masyarakat yg tidak pernah melalui proses renaissane ini, agama msh bercampur aduk dengan struktur sosial lain. shg klo kita pake Marxisme, dia (agama) super struktur yg hrs ditumbangkan oleh perlawanan basic struktur (proletar). khan berabe kawan, kita bukan eropa?
hahahahahaha
Yoi, kita bukan Eropa Bung Hakim, dan saya sepakat pula, kalau di indonesia, istitusi perasaan, logika mistik dan tata urut kestrukturan masyarakat sungguh sangat terpengaruh dengan faktor2 di sekelilingnya...sehingga agama bukan saja hasil cipta spiritual di sini, melaikan beragam adaptasi dan adopsi dari struktur kultur dan tata hidup masyarakat. Kalua berbicara teologi pembebasan secara sedehana, bukankah sejarah telah banyak memberi bukti, bahwa banyak mutan agama di indonesia kerap menjadi gairah politis yang efektif (dalam hal ini positif ataupun negatif)
piye Bung?
Menurut buku yang loe baca gimana? hahaha
Silahkan login untuk memberikan pendapat