Pers Mahasiswa Sebagai Media Perlawanan 4
Rabu, 14 Okt '09 11:41
<!-- /* Font Definitions */ @font-face {font-family:"Cambria Math"; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:1; mso-generic-font-family:roman; mso-font-format:other; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman","serif"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-ansi-language:IN;} .MsoPapDefault {mso-style-type:export-only; margin-bottom:10.0pt; line-height:115%;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} -->
Pers mahasiswa (Persma) merupakan salah satu dari bagian gerakan mahasiswa dengan bentuk gerakannya lebih menitikberatkan pada propaganda-propaganda pembentukan opini publik lewat tulisan (produk jurnalistiknya). Selain itu para pegiat persma bersama-sama dengan pilar gerakan mahasiswa yang lain terlibat langsung melakukan advokasi terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai merugikan rakyat (diantaranya lewat parlemen jalanan)
Salah satu alasan yang mendasari persma lebih menitikberatkan pada perjuangan lewat tulisan adalah selain sebagai lembaga yang berlebel pers, tulisan memiliki sebuah kekuatan yang besar untuk membentuk opini publik. Lewat sebuah tulisan, pemikiran dan gagasan-gagasan cemerlang seseorang dapat menembus ruang dan waktu walaupun penulisnya telah terkubur ribuah tahun silam.
Sebagai contoh, Sayyid Qutb yang hidup dimasa belantara kekejian kapitalisme menyerbu mesir, Qutb yang hanya penulis sastra memilih bergabung dengan Ikhwanul Muslimun melakukan perlawanan dan pemberontakan terhadap Inggris (sang penindas). Akibatnya Qutb dijebloskan ke dalam penjara dengan penyiksaan yang keji. Namun penjara tak membuat pemikirannya terkungkung dalam jeruji besi. Penjara hanya menjadi tempat terbaik untuk menuliskan karya besar yang kelak mempengaruhi hampir semua gerakan Islam di berbagai penjuru.
Besarnya pengaruh perjuangan lewat pena diakui pula oleh Ali Syariati dalam sebuah risalahnya, Syariati menulis “dalam gerakan ini, mereka yang melakukan perjuangan melalui tulisan tidaklah kurang jasanya dari mereka yang berjuang di perbatasan negara dan melakukan perang secara bawah tanah di kota-kota.
Menarik keperistiwa dan jejak langkah yang telah dilalui oleh bangsa ini, pers mahasiswa turut andil dalam mengawal perjalanan sejarah bangsa. Jejak pers mahasiswa dapat kita temukan mulai dari masa pra kemerdekaan sampai hari ini. Pada masa perjuangan kemerdekaan, pers mahasiswa tampil sebagai alat propaganda untuk merebut perjuangan nasional dan memanfaatkan diri sebagai counter attack terhadap media penjajah. Tercatat pada tahun 1920-an dikenal dengan Soera Indonesia Moeda, Oesaha Pemoeda dan Jong Java. Namun seiring dengan berjalannya waktu, sekitar tahun 1950-an tensi perjuangan dengan menggunakan label pers sebagai media propaganda mengalami penurunan. Menurunnya tensi perjuangan menggunakan label persma disebabkan konsentrasi gerakan mahasiswa dan rakyat lebih terfokus pada perang gerilya. Kemudian, pada tahun 1958 menjadi cikal bakal (awal mula) terbentuknya organ pers mahasiwa berskala nasional pertama di Indonesia. Hal tersebut ditandai dengan lahirnya Ikatan Penerbit Mahasiswa Indonesia (IPMI).
Pada masa orde lama, penguasa melakukan tekanan terhadap rakyat dan mahasiswa secara umum, dan disisi yang lain pers umum hanya menjadi corong bagi kebijakan parpol. Dengan kondisi siperti itu, para pegiat pers mahasiswa bersama pilar gerakan mahasiswa lainnya (kelompok studi dan parlemen jalanan) tidak tinggal diam meratapi nasib dalam tekanan penguasa, sebab sikap diam terhadap penindasan merupakan satu bentuk penghianatan intelektual, Oleh sebab itu para pegiat pers mahasiswa terterus bergerak melawan rezim orde lama. Kala itu pers mahasiswa tampil gagah berani sebagai pers alternatif menyuarakan kebenaran dan tetap melakukan proses enlighment kepada masyarakat.
Seiring dentunan jaru jam, hari-hari pun berlalu, rezim orde lama-Soekarno yang telah berkuasa selama 22 tahun runtuh dan digantikan oleh Jendral soeharto sebagai penguasa baru negeri ini. Jendral Soeharto dilantik pada tanggal 12 Maret 1967. Dengan pergantian rezim penguasa, sistem sosial politik berubah. Soeharto memimpin dengan otoriter. Babak baru perjuangan pers mahasiswa pun dimulai. Dengan sistem pemerintahan otoriternya, di tahun 1978 penguasa melakukan pembredelan terhadap sejumlah pemberitaan pers umum. Pada tahun itu pula, pers mahasiswa mencapai puncaknya dengan keberanian para pegiat pers mahasiswa melakukan kritik dan perlawanan terhadap penguasa yang otoriter. Keberanian pegiat pers mahasiswa tersebut terekam dari pemberitaan yang berbeda dari pemberitaan pers umum. Disetiap penerbitannya, pers mahasiswa selalu mengulas salah satu dari lima persoalan yang tak “tersentuh” oleh pers umum. Kelima persoalan yang tidak boleh disentuh oleh pers umum adalah yang menyangkut keluarga Suharto bersama kroni-kroninya, ABRI, lima paket Undang-Undang Politik, UUD 45 dan bendera Republik Indonesia.
Sikap dan tindakan yang kritis pers mahasiswa terhadap penguasa menjadi salah satu sebab Suharto dengan antek-anteknya mengangap bahwa gerakan politik mahasiswa (termasuk pers mahasiswa) merupakan ancaman bagi keberlangsungan kekuasaannya, maka untuk membendung dan memberangus gerakan mahasiswa tersebut, maka resim orde baru dibawah kontrol Soeharto, menerbitkan kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) dan Badan Koordinasi Kemahasiswaan (BKK) melalui SK Mendikbud No. 028/U/1974 tentang Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) dan Badan Koordinasi Kemahasiswaa (BKK) yang kemudian lebih populer dikenal dengan NKK/BKK.
Pemerintah dengan konsep NKK/BKKnya berhasil memecah gerak mesra ketiga pilar gerakan mahasiswa. Pola pikir yang dibenturkan adalah menganggap pers mahasiswa bukan lagi sebagai wadah pembentukan pola, propaganda dan perjuangan melainkan sebagai wadah bagi penggemar skill jurnalistik dan kewartawanan semata. Namun tidak semua pegiat persma berpikiran seperti itu.
Seiring waktu yang berlalu, keberadaan IPMI semakin meredup dan tanpa kejelasan maka pada tahun 1992, lewat lokakarya Penerbitan Mahasiswa Se-Indonesia, pernyataan bergabungnya lembaga penerbitan mahasiswa yang ada diperguruan tinggi bernama Perhimpunan Penerbit mahasiswa Indonesia (PPMI). Pada Kongres kedua PPMI yang dihadiri oleh 77 LPM dari 47 perguruan tinggi di Indonesia kemudian menghasilkan ketetapan perubahan singkatan Perhimpunan Penerbit Mahasiswa Indonesia (PPMI) menjadi Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) yang kini masih eksis sampai sekarang baik tingkat nasional maupun di kota-kota besar negeri ini termasuk makassar (PPMI kota Makassar).
Dan tak dapat dipungkiri bahwa PPMI (pers mahasiswa) bersama pilar gerakan mahasiswa yang lain turut andil dalam menumbangkan resim Suharto pada tahun 1998, dan mengantar negeri ini kepada era reformasi dan kebebasan pers.
Namun dimasa transisi (reformasi 1998 - sekarang) pola pikir persma sebagai wadah bagi penggemar skill jurnalistik dan kewartawanan semata telah meninabobokan sebagian besar pegiat persma, sehingga menjadi momok pemahaman kita terhadap persma seutuhnya. Sebagian besar pula telah menganggap persma telah kehilangan arah perjuangan (terserah kawan-kawan apakah sepakat atau tidak).
Dan kini pertanyaannya apakah rangkaian sejarah yang telah ditorehkan oleh para pendahulu kita yang terus mengobarkan semangat perlawanan terhadap ketidakadilan yang diciptakan oleh sistem melalui tangan-tangan penguasa hanya akan menjadi cerita romantisme belaka. Jawabannya kita kembalikan kepada para pegiat persma akankah wadah yang berlebel Pers Mahasiswa (LPM, UPPM, UKPM atau LPPM)) hanya dijadika sebagai ajang gaul jadi wartawan ataukah akan menjadikan lembaganya sebagai media perlawanan dan perjuangan. Salam Pers Mahasiswa (PPMI kota Makassar)
Tag: Pers mahasiswa, penguasa, tanggung jawab kaum intelektual, Lembaga pers mahasiswa
Terkait:
-
Mencoba Menolak Cover Both Side
Rabu, 13 Jan '10 11:01
Komentar:
itulah kita yang sedang mengukuhkan diri menjadi "kelas menengah".
semestinya pertanyaannya bukan 'apakah ini akan menjadi romantisme', tapi 'atas penciptaan apakah semua ini dilangsungkan...?'. dan bukan kita kembalikan pada pegiat persma, tapi kita sedang dikontruksi oleh apa?
Terus menulis kawan!
hehehehe
tetap berkarya!
kalau punya referensi [buku/doc] tentang pers mahasiswa atau PPMI bagi2 dong...
nb.
1914 pelajar dan mahasiswa menerbitkan Jong Java
1923 Ganeca diterbitkan oleh organisasi mahasiswa BSC atau CSB
1924 Indonesia Merdeka diterbitkan oleh mahasiswa Indonesia di Belanda
1928 Soeara Indonesia Moeda diterbitkan setelah Sumpah Pemuda
1930 Oesaha Pemoeda diterbitkan oleh pelajar dan mahasiswa Indonesia di Kairo Mesir
1930 Jaar Boek diterbitkan oleh THS [sekarang ITB] pada kurun waktu 1930-1941
oiy erus menulis n ungkapkan kebenaran
Silahkan login untuk memberikan pendapat